52 views

Apa yang Memperdaya Kita?

0

Di media sosial punya ratusan bahkan ribuan teman

Di dunia nyata sebaliknya, biasanya puluhan
Saat terjepit tersisa beberapa yang setia mendampingi
Kala menjadi jenazah tinggal keluarga yang paling peduli
Di alam kubur tiada yang menemani

Inilah kehidupan laksana senda gurau, permainan dan kebanggaan semata
Dunia sejatinya tempat hukuman Adam dan Hawa
Kegemerlapannya senantiasa diliputi kesulitan dan kesedihan

Tidaklah Allah Ta’ala menyebut kata bahagia melainkan di satu tempat

“Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam syurga,” (QS. Hud: 108)

Pernak pernik menghias akhir zaman
Pertandingan sepak bola rata-rata 90 menit
Nonton sinetron 60 menit
Duduk di bioskop 130 menit

Tak lupa paket internet ratusan ribu menit

Shalat cuma 5 menit
Namun nereka Jahannam tak berdurasi

Hidup akumulasi nonton bola, sinetron, bioskop, internetan, ibadah dan kegiatan lain
Ia hanya sesaat, sesiang atau dari ashar hingga menjelang maghrib
Begitu singkat, namun padat dan sangat bersarat
Kita berada bukan di sebaik-baik zaman

Bukan pula dihasi banyak manusia terbaik
Jangan salah pilih tauladan, pergaulan, bacaan, tontonan, pendamping hidup plus mertua
Hati-hatilah memilih, jika tidak ingin menderita, makan hati dan korban perasaan

Dunia terus berjalan sebagaimana roda kehidupan
Awalnya semua manusia beriman, tiada penyembahan selain kepada Tuhan semesta alam
Masa ini diperkirakan berlangsung di 6000-5000 tahun SM, sebut saja era Mesopotamia

Dahulu mereka sudah berkebutuhan, punya keinginan dan harapan
Bertani, berniaga, menikah, berinteraksi sosial, apapun dikerjakan
Mereka lebih kaya raya, gagah perkasa dan luas wilayah garapan

Kini marak kegaduhan, tak perlu heran
Memang fitrah manusia ada kecendrungan menyimpang
Tapi tidak berlaku bagi yang berpegang pada Al Qur’an dan ajaran Nabi nan mulia

Setiap masa memiliki tantangan
Dahulu, kezaliman dan kesombongan mewabah
Kini, kecanggihan membuat orang semakin terlena
Esok lusa fitnah dajjal lebih menggila
Begitulah kehidupan, ada konsekuensi, antara menang atau kalah
Segera jatuhkan pilihan, jika tak ingin merana

Duhai jiwa!

Ibu pertiwi mendamba para pengabdi
Sedari dulu, sekarang hingga nanti

Jangan biarkan bumi gelisah dan menyendiri
Bersedih karena fenomena datang silih berganti

Ramai-ramai manusia ingin tampil dan minta dipuji
Meninggikan simbol tanpa esensi
Gesek sana sini menghilangkan hati nurani

Ramai ramai manusia ingin berdikari
Sekalipun menghinakan diri
Alhasil hidup hanya menjadi pribadi ngerumpi
Daripada berdiam diri, bertasbih dan mengaji

Kini! Beragama layaknya aksesoris dan seremoni
Seharusnya menjadi kebutuhan yang dibawa hingga mati
Ramai ramai manusia ingin dibilang trendi
Terus mengikuti gaya hidup bak selebriti

Banyak program televisi menawarkan kebodohan terkini
Ditonton jutaan pasang mata yang hampir kehilangan budi pekerti

Di sana para perempuan menjadi objek mata pencuri
Dari pagi hingga mentari enggan menampakkan diri
Semakin membuat bumi, langit dan gunung-gunung menangisi
Entah kapan kejanggalan ini akan berhenti

Duhai jiwa!

Berusahalah menjadi sebaik-baik manusia
Yang menawarkan ketenangan jasmani dan ruhani
Pelebur lara, penghilang sedih di relung sanubari
Sekolah bagi generasi-generasi Robbani
Menjadi tonggak peradaban yang  mati suri

Jadilah pembakar semangat sebagaimana para pengabdi
Agar pribadi jujur tetap hidup di tanah ini
Hingga benar-benar bisa berdiri
Menghiasi hari hari para penanti
Di jalan yang Allah Ta’ala ridhoi

Duhai jiwa!

Usah menjadi anak zaman yang mudah termakan buaian
Tak kuat dengan banyak tuntutan

Terkadang membutakan mata hati dan pikiran
Silau materi tetangga sebelah berharap cepat jadi jutawan
Tak sabar meniti jalan sempit penuh misteri bak hidup di hutan
Tak peduli apa kata Tuhan
Tak apalah yang penting dapat uang banyak dan bisa makan

Halal haram menjadi tak diperdulikan
Semoga tidak demikian para perindu kebahagiaan

Duhai jiwa!

Tak perlu risau atas rezeki dan kesuksesan orang lain
Karena tiada yang tahu apa yang telah membuatnya menangis
Tak perlu pula bersedih hati atas ujian yang datang menimpa
Karena Allah Ta’ala Maha Adil
Sedikitpun tiada manusia yang dizalimi

“Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya. (QS: Al Mu’minuun: 62)

Semakin kuat kesabaran, maka akan dekat dengan rasa syukur
Semakin jarang bersyukur, maka siap-siap untuk terus bersabar
Maka pandai-pandailah bersabar dan bersyukur duhai jiwa

Bersabar di dunia banyak manfaatnya
Namun di akherat hal itu tiada guna
Kesabaran sehebat apapun tiada mengurangi azab baginya
Pilihan hanya ada dua
Selalu Bersabar dan bersyukur di dunia atau bersabar di Neraka. Ma’adzallah

Duhai jiwa!

Belajar bukan karena ada ujian
Mendidik tiada bahas zona nyaman
Mengajak kebaikan tanpa harap imbalan
Mengabdi jauh dari pencitraan

Manusia merdeka, ia yang tak terkekang jarak, ruang dan dinding waktu
Adapun budak, selalu dihiasi ketakutan dalam kebebasan

Alangkah sayang!
Manusia merdeka jauh dari riba, apalagi lilitan hutang
Pun dari kesewenang-wenangan orang
Sampai persepsi para pengigau yang suka sembarang

Sungguh! Banyak jalan dan kemudahan, kenapa tidak kita ringankan
Di balik kesulitan pasti ada kemudahan
Para penakut, selalu bicara jaminan, zona nyaman dan jauh dari pengabdian
Para pemberani, tak biasa jika hidup tak dihiasi tantangan, ujian dan perjuangan
Tiada kekawatiran perihal kehidupan
Hanya satu yang dirisaukan: Takut jauh dari Tuhan!

Kemarin, kita sudah lewati dan takkan kembali
Hari ini kita mengisinya dan belum tentu terulang
Esok kita tidak tahu dimana kan berada
Batu nisan kuburan tidak tercatat bagi lanjut usia saja

Lantas apa yang telah memperdayakan dan melalaikan
Usah terlalu sibuk dengan urusan pribadi yang kerap melenakan
Hingga melupakan fitrah, untuk apa manusia diciptakan!

Semoga Allah Ta’ala yang Maha Pengasih mewafatkan kita dalam husnul khatimah, diberi keberuntungan surga dan diselamatkan dari api neraka. Ya Robbana

Sebagai penutup, teriring salam dan munajat indah nan syahdu Nabi Yusuf ‘alaihi assalam.

(Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh. (QS. Yusuf: 101)

————–

Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc M.A

Pengasuh Halaman Komunitas ISCO (Islamic Studies Center Online)

Pembelajar sepenggal masa, belajar menuangkan setetes pemikiran menjadi tulisan ringan, berharap makna bagi sesama. Pengasuh situs lulusan Ponpes Modern Darunnajah Bogor, S1 Univ. Al Azhar Kairo Republik Arab Mesir Fakultas Ushuluddin Jurusan Hadist dan Ilmu-ilmunya, S2 Univ. Cidi Mohammed ben Abdellah Kota Fez Kerajaan Maroko bidang Kaidah Fiqih dan sedang menyelesaikan pendidikan S3 ilmu tafsir di PTIQ Jakarta.

Leave A Reply

linked in share button