393 views

Bahagia dengan Mencintai Allah dan RasulNya

0

 ‘Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, Maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan’. [QS. An Nuur; 52].

Sungguh! Tiada bahasan yang lebih menggembirakan selain kajian tentang iman, tengok Umar yang ditakuti bangsa jin, padahal ia hanya menderma setengah dari seluruh hartanya.

Bayangkan dengan keimanan Abu Bakar yang menderma seluruhnya, para jin mungkin pingsan dan jika ada yang kesurupan maka jinnya langsung kabur sebelum sempat diruqyah. Pantas ia sebaik-baik manusia di kalangan sahabat Nabi.

Semakin tinggi keimanan seseorang, semakin besar ujian yang akan dihadapi, dan tingkatan keimanan yang paling tinggi adalah mereka yang bersyukur ketika ditimpa musibah, belajar dari Nabi yang senantiasa mengucap Alhamdulillah dalam setiap kondisi senang maupun sulit.

Kecintaan kita kepada Allah dan RasulNya mungkin baru sebatas ujung lidah, belum masuk ke relung sanubari. Tak heran banyak orang yang sangat berterima kasih kepada Tuhannya saat diberi karunia, namun meraung-raung, murka, berkeluh kesah, menyalahkan takdir sampai menghujat Tuhan tatkala di beri kesempitan. Parahnya lagi ia menjadi malas beribadah dan jarang berdzikir. Ma’adzallah
Masalah manusia zaman sekarang hanya pada tatanan kemapanan, status sosial dan persepsi banyak orang, tak lebih dari itu. Padahal belajar dari sebaik-baik manusia di zaman tabi’in setelah era para sahabat Nabi, hanya rakyat jelata, namun ketulusan, kebenaran, kesungguhan, keimanan dan kecintaannya yang begitu besar kepada Allah dan RasulNya menjadikan ia mulia mengalahkan para ulama besar, dialah Uwais Al Qarni.

Lalu bagaimana dengan kita, era dimana banyak fitnah bertebaran, sulit membedakan mana pengabdi dan penghayal, pejuang dan penjilat, pemberani dan pengigau, era dimana bukan sebaik-baik zaman, tak banyak manusia-manusia terbaik, halal haram kurang diperdulikan, sampai pada kesimpulan tiada yang lebih nikmat selain nikmat iman dan nikmat Islam.

Beberapa waktu lalu saya sempat melontarkan pertanyaan yang sedikit menyentil seraya berbincang santai dengan salah seorang sahabat, seorang ustadz dengan jam terbang dan aktivitas dakwahnya yang segudang.Tak tanggung-tanggung jemaahnya pun beraneka ragam hingga kalangan selebriti yang sudah hijrah.

“Tadz! Mungkin orang-orang yang masuk surga lebih dahulu, mereka yang jarang tampil, ngisi kajian, tabligh akbar, minimalnya jadi pendengar duduk manis di majlis atau bahkan tak pernah hadir, ilmunya tak dalam, tak dikenal banyak orang. Namun keimanan dan ketulusan hatinya tiada yang menandingi ?!”

Sang ustadz pun termenung sejanak, seraya berkata;

“Ia…bisa jadi mereka lebih dahulu masuk surga daripada kita”

Semoga Allah Ta’ala membimbing kita untuk terus berada di jalan yang benar. Ya Robbanaa.

————–

Oleh: Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc M.A

Pengasuh Halaman Komunitas ISCO (Islamic Studies Center Online)

Pembelajar sepenggal masa, belajar menuangkan setetes pemikiran menjadi tulisan ringan, berharap makna bagi sesama. Pengasuh situs lulusan Ponpes Modern Darunnajah Bogor, S1 Univ. Al Azhar Kairo Republik Arab Mesir Fakultas Ushuluddin Jurusan Hadist dan Ilmu-ilmunya, S2 Univ. Cidi Mohammed ben Abdellah Kota Fez Kerajaan Maroko bidang Kaidah Fiqih dan sedang menyelesaikan pendidikan S3 ilmu tafsir di PTIQ Jakarta.

Leave A Reply

linked in share button