78 views

Bolehkah Perempuan Bekerja?

0

Dalam sebuah diskusi ringan di media sosial bertajuk “peran perempuan di era modern” sekaligus sebagai bahan analisa saya, ada dari pihak perempuan yang menanyakan perihal boleh tidaknya kaum hawa berkarir di luar rumah.

“Memangnya tidak boleh ya, kalau perempuan lajang berkarir atau berkarya untuk mengaktualisasikan dirinya guna mencari pengalaman dan dari pengalaman itu bisa dijadikan pelajaran untuk anak-anaknya kelak atau tujuannnya ingin mandiri dan bisa memberi kepada orangtua dan membahagiakannya. “begitu ujar salah seorang penanya”

Sayapun berusaha untuk memberikan jawaban sebagai sebuah analisa bersama dan faktanya bisa kita lihat dalam kehidupan nyata.

Selama masih dalam koridor yang dibolehkan oleh syariat maka hukumnya tidak mengapa kaum perempuan bekerja, yang jadi masalah adalah saat perempuan ingin disamakan kewajibannya seperti laki-laki bahkan melebihi kewajiban para lelaki, lebih menjadi masalah lagi jika kaum perempuan lebih senang berada di luar rumah karena kepuasan dan kesenangan pribadi.

Perempuan tetaplah perempuan, ia makhluk yang penuh keutamaan dengan segala karunia yang diberikan Allah Ta’ala khususnya perihal kesabaran mengasuh maupun mendidik anak-anaknya, sebaiknya janganlah mereka melupakan kerajaan kecil yaitu rumahnya, karena disitulah letak fitrah bagi dirinya.

Diperbolehkan bagi para perempuan untuk bekerja akan tetapi harus dengan ketentuan atau syarat-syarat yang harus diperhatikan dan dipenuhi, seperti:

  • Ada izin dari wali, bisa suami, orangtua atau keluarga
  • Hidup sebatang kara dan tiada yang melindunginya
  • Tidak memiliki wali maupun keluarga yang menafkahinya
  • Pekerjaannya harus halal, bukan berbau syubhat (tidak jelas kehalalannya) apalagi yang haram.
  • Menjaga kehormatan saat di dalam rumah maupun ketika bekeja di luar rumah.
  • Tidak ada percampuran bebas antara lelaki dan perempuan
  • Menutup aurat
  • Tidak ber-tabarruj atau bersolek secara berlebihan
  • Tidak memamerkan perhiasan
  • Tidak memakai pakaian ketat atau transparan
  • Bekerja bukan karena kesenangan pribadi
  • Pekerjaannya harus sesuai dengan bidang yang biasa digeluti perempuan, diantaranya;
  1. Pelayanan kesehatan,
  2. Pendidikan,
  3. Menulis,
  4. Pemerhati anak,remaja dan masalah sosial
  5. Pengusaha, bisnis rumahan atau online
  6. Menjahit atau membuka butik
  7. Membuka warung makan, kue dan sejenisnya
  8. Dan keterampilan lain yang hanya dimiliki kaum hawa.

 Apapun jenisnya, bekerja menjadi PNS atau swasta tidaklah masalah, yang terpenting tidak mengurangi apalagi melanggar kewajiban dalam beragama, berumah tangga, tetap berbakti kepada suami, memberi perhatian, kasih sayang, mengurus anak-anak dan urusan rumah tangga lainnya. Karena kepentingan keluarga harus diprioritaskan dalam kehidupan para muslimah.

Kesimpulannya hukum para perempuan bekerja boleh-boleh saja selama tidak mengundang fitnah yang bisa menjerumuskannya kepada kemaksiatan atau membuatnya menelantarkan kewajiban berumah tangga dengan mengupayakan pekerjaan halal yang sesuai dengan bidang para perempuan tentunya.

Namun untuk tetap berada di dalam rumah guna mempersiapkan dan membangun generasi handal, tangguh dan beradab itu jauh lebih utama sesuai dengan isyarat dari firman Allah Ta’ala:

“Dan hendaklah kamu (segenap mukminat) tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.” (QS. Al Ahzab: 33)

Ali radiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Fatimah radiyallahu ‘anha putri Rasulullah.

 “Wahai Fatimah, apakah yang baik bagi seorang perempuan?” Fatimah menjawab,

“Hendaknya ia tidak melihat lelaki (asing yang bukan mahramnya[1]) dan lelaki (orang lain) tidak melihatnya.”

 

Semoga bermanfaat.

————–

[1]. Mahram berarti perempuan yang haram dinikahi oleh laki-laki. Periksa surat An Nisaa ayat 22-23 juz ke-4. Adapun diluar dari itu maka disebut bukan mahram.


Referensi;

  • Yaqub, Ali Mustafa, 2007, Fatwa Imam Besar Masjid Istiqlal, Pustaka Firdaus, Jakarta
  • Al Wadi’i, Ummu Abdulllah Bint As-syeikh Muqbil bin Hadi, 2005, Nashiihatii Linnisaai, Darul Atsar, Sana’a
  • As-Sirbuny, Abdurrahman Ahmad, Fadhilah Wanita Shalilhah,

Pustaka Nabawi, Cirebon

  • Asy-Syibli, Ubaid, Wanita Pilihan, Lintas Media, Jombang
  • Ghanim, Wajdi, 2006, Ath-Thariqu ila As-Sa’aadati Az- Zaujiyah, Darussalam, Kairo

————-

Oleh: Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc M.A

Pengasuh Halaman Komunitas ISCO (Islamic Studies Center Online)

 

Pembelajar sepenggal masa, belajar menuangkan setetes pemikiran menjadi tulisan ringan, berharap makna bagi sesama. Pengasuh situs lulusan Ponpes Modern Darunnajah Bogor, S1 Univ. Al Azhar Kairo Republik Arab Mesir Fakultas Ushuluddin Jurusan Hadist dan Ilmu-ilmunya, S2 Univ. Cidi Mohammed ben Abdellah Kota Fez Kerajaan Maroko bidang Kaidah Fiqih dan sedang menyelesaikan pendidikan S3 ilmu tafsir di PTIQ Jakarta.

Leave A Reply

linked in share button