88 views

Episode Akhir Zaman; Arab Saudi VS Iran

0

 

Menyelami akar konflik antara Arab Saudi (Sunni) dan Iran (Syiah) bukan dengan selera, persepsi masing-masing (afiliaisi), asumsi, apriori apalagi mengandalkan pandai bersilat lidah semata. Coba kembalikan kepada rentetan kelam lembaran sejarah.

  • Siapakah kelompok pemula pembuat hadist palsu?
  • Siapakah pengkhianat penyebab terbunuhnya Husain?
  • Siapakah yang mengkhianati khalifah Abbâsiyah?
  • Siapakah yang menganggap keji perbuatan Holago (Hulagu) sebagai perbuatan baik?
  • Siapakah yang membantu bangsa Mongol (Tatar) bisa memasuki Baghdad?
  • Siapakah yang menolong bangsa Tatar menyerang Syam?
  • Siapakah yang mencuri Hajar Aswad dan suka membuat kegaduhan di tanah suci?
  • Siapakah yang membantu tentara salib melawan kaum muslimin?
  • Siapakah yang telah menyokong penyerangan kaum Zionis terhadap Lebanon Selatan?
  • Siapakah yang menyerang markaz-markaz dakwah Islam di Yaman?
  • Siapakah yang menyambut bahagia penyerangan tentara salib di Afghanistan?
  • Siapakah yang menyambut bahagia penyerangan Amerika ke tanah Iraq?
  • Siapakah yang saat ini menguasai (menjajah) wilayah sunni di kawasan Irak, juga suku kurdi di kawasan utara?
  • Siapakah pembela setia rezim Bashar Asad di Timur Tengah?
  • Siapakah yang sedang memerangi kaum muslimin di negeri Syam saat ini?
  • Siapakah yang mengatakan, “kami bersama pemerintah Indonesia dalam memerangi “terorisme”?
  • Siapakah yang gemar melaknat, menyumpahi, memaki para sahabat Nabi dalam shalat (doa) dan keseharian mereka hingga sekarang?
  • Siapakah yang memuja pembunuh Umar bin Khatab?
  • Dan siapakah yang menghalalkan serta menganjurkan “nikah kontrak”?

Memahami beberapa pertanyaan diatas, kemudian melusurinya adalah setengah jawaban untuk mengerti akar permasalahannya. Namun ini baru awal, karena eposide akan terus bersambung seiring kebodohan, kezaliman, kemungkaran dan kedustaan masih lestari di muka bumi.

Bagi kalangan awam yang tidak mengerti masalah aqidah pasti akan kesulitan menemukan titik terang, bagi mereka sunni syiah sama saja, anehnya banyak yang berpartisipasi dalam perseteruan ini karena takut disebut “ketinggalan informasi”, lebih aneh lagi banyak yang sensitif dan mudah tersinggung tatkala kebenaran disampaikan.

Allah Ta’ala jelas menggambarkan bahwa manusia akan terpecah belah, saling berperang satu sama lain, sama halnya dengan dengan kehidupan bangsa jin yang cenderung berbuat kerusakan. Artinya dunia memang sudah terdesain akan adanya pertarungan sengit dari kedua kubu (hak dan batil).

Bagi bangsa jin dan manusia yang beriman, mereka sudah tahu masalah ini, karenanya pandai mengambil pelajaran. Hanya kalangan yang jauh dari kebenaran, rahmat Tuhan, selalu berbuat keburukan dan kefasikan.

Karakter demikian dinamakan setan yang akar katanya syathana (شطن ) yang berarti jauh atau selalu berbuat kerusakan, ia bisa berasal dari kalangan jin maupun manusia, adapun pemimpinnya bernama Iblis. Namun lepas dari itu semua, manusia adalah pemimpin sebenarnya (khalifah) di muka bumi.

Usah Tanya kenapa Allah Ta’ala menjadikan manusia dan jin jika sebagai perusak, coba tengok keluarga maupun kerabat yang sering kali terjadi gesekan maupun bantahan hebat. Maka fahami dan nikmati saja sebagai sebuah instrumen kehidupan,

Allah Ta’ala menjadikan fenomena ini sebagai bahan renungan supaya kita terus berpikir. Sama halnya kenapa Babi, Anjing, minuman keras (khamr) diciptakan namun diharamkan, anda bisa bayangkan apa jadinya jika tidak ada binatang atau sesuatu yang haram dikonsumsi, dari mana anda mengenal dan belajar.

Jika anda masih kurang puas, tengok keadaan bumi pertiwi, terlahir dari rahim yang sama, namun apa yang terjadi, akur kah? Masing-masing pihak merasa paling berjasa, paling berhak dan paling benar tentunya. Kegaduhan dimana-mana, saling hujat dan saling memenjarakan. Ruang linkup sunni dengan syiah lebih luas lagi dari sekedar membahas polemik maupun kegaduhan politik di Nusantara.

Bukalah lembaran sejarah manusia, tiada yang membedakan karakter manusia dari zaman Nabi Adam hingga umat Nabi Muhammad yang diperkirakan sudah berlangsung selama 7000 tahun,

Ketika lapar mereka makan, pergi ke pasar, menikah, tahu berdusta adalah hal kotor, ada yang beriman namun kebanyakannya kufur.

Saat ini kita berada di akhir lembaran yang sudah mulai using, namun kebutuhan, keinginan dan cita-cita manusia tetap berlangsung.

Sekalipun Al Qur’an turun dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah anda, tetap saja kekufuran, kerusakan dan peperangan akan terjadi. Bukankah para Nabi telah menyampaikan kebenaran dengan bahasa kaumnya, tahukah anda apa yang terjadi?

Apakah mereka disambut hangat, dipuja puji, di elu-elukan, mendapat popularitas, harta benda dan segala macamnya. Sekali-kali tidak!

Mereka manusia-manusia terbaik yang pernah hadir menghiasi muka bumi, namun justru didustakan, diolok-olok, dilecehkan, dibuat jengkel, dituduh penyihir, orang gila, keluar dari ajaran nenek moyang, ditawan/dipenjara, terusir dari kampung halaman bahkan tak sedikit yang dibunuh secara keji.

Hanya sedikit yang beriman, itupun kalangan terbatas yang kebanyakannya kaum lemah, sisanya kalangan bangsawan. Dari sini muncul sebuah kaidah bahwa orang kaya yang bersyukur bisa jadi lebih utama dari orang miskin yang bersabar ditimbang dari kuantitas.

Coba bayangkan oleh anda dan fahami makna keniscayaan!!! Mereka itu para Nabi, bagaimana dengan saya, anda dan kita semua? Masih berharap redho dan tepuk tangan manusia dalam berpegang teguh kepada ajaran para Nabi.

Lantas apakah kita dengan enteng hendak mengatakan dakwah para Nabi banyak ditentang karena mereka kelompok radikal, tidak pandai beretorika, tidak menguasai metodologi, tidak familiar, tidak faham psikologi masyarakat, tidak persuasif, tidak mengenal kemajuan, tidak menghargai budaya, kaku, kolot, tidak gaul, tidak pintar, mau menang sendiri dan tuduhan lainnya sebagaimana tuduhan yang sering dilayangkan kaum liberal sekuler dan anti Islam kepada para ulama (pewaris Nabi) di zaman sekarang. Justru para Nabi telah berdakwah dengan sebaik-baik cara, namun tetap saja terbantahkan.

Bagi anda yang selalu mengklaim cinta damai, paling nasionalis, agamis dan tolerans, coba tanyakan sudah benarkah apa yang diperjuangkan, atau coba sering piknik guna mencari keniscayaan, karena bisa jadi anda sendiri sedang tidak berdamai, jauh dari toleransi, menuduh radikal kaum islamis dan hanya membela kelompok tertentu. Apa ini nasionalis?

Bagi kalangan awam yang kurang mengerti sejarah, biasanya akan mudah terombang-ambing opini menyesatkan para pesohor dan media yang cenderung subjektif dalam menyampaikan pesan guna memperjuangkan kepentingannya, atas nama hak asasi manusia dan sejenisnya, apapun bisa dihalalkan.

Dahulu dan kini, kesalahan yang membuat manusia ditindas, difitnah, dihujat dan diperangi hanya karena mereka berkata Tuhan kami Allah yang Maha Perkasa dan Terpuji, kemudian mereka konsisten di jalanNya dengan mengikuti sunnah NabiNya, mengajak kepada yang ma’ruf dan menolak kemungkaran. Itu saja, tiada yang lain!!!

Adapun isu radikalisme dan terorisme yang sering digembor-gemborkan dewasa ini, hal itu bisa dipesan, tergantung siapa dalang di belakang layar (who is behind not what is behind). Kita hanya butuh sedikit kecerdasan untuk membuka tabir sehingga tidak terus termakan istilah menyesatkan di era global.

Berbagai dukungan terus digalang, mencari pembenaran sesuai selera dan hawa nafsu, beginilah keadaan para pembantah yang ingin melenyapkan kebenaran dengan cara batil namun dibungkus dengan nuansa formal.

Coba tengok invasi Amerika ke Irak beberapa tahun lalu atas tuduhan senjata kimia, kemudian meminta restu, berdalih mendapat rekomendasi badan nuklir dunia yang kala itu diketuai Ahmed Baradei (Mesir). Hal ini semata-mata untuk melegalkan penjajahan di muka bumi dari kaum penjajah berdarah dingin dan dunia diam.

Adakah senjata pemusnah masal ditemukan pasca tumbangnya rezim Sadam Husein?

Hingga kini masyarakat Irak “marah” dan menyimpan luka atas ulah Amerika. Aksi heroik Amerika baru-baru ini dalam memerangi ISIS “disinyalir” sebagai bentuk cuci tangan atas kesalahan besar mereka seraya membawa misi “menguasai” sumber daya alam  di kawasan Timur Tengah yang amat melimpah.

Anda mungkin tidak tahu, bahwa Irak adalah bangsa besar, pewaris peradaban tertua di dunia (Mesopotamia) sekitar 6000 tahun SM dan inti dari bangsa-bangsa Arab (لب العرب ). Ia takkan mati kendati hancur lebur. Coba tengok tak lama invasi Amerika terjadi, Irak mampu menjuarai piala Asia bidang sepak bola yang kala itu Indonesia menjadi tuan rumah, berapa raksasa Asia yang disingkirkan.

Masih ingatkah anda?

Ini baru satu contoh. Belajar dari Irak, kita negeri yang adem ayem namun sulit sekali rasanya berprestasi di bidang olahraga dan hampir di segala bidang, entah apa jadinya jika tuduhan tak mendasar terjadi pada Indonesia, akankah kita bisa bangkit layaknya Irak!

Sebagai penutup, memang agak sulit tuk mengklarifikasi hoax dan tidaknya berita yang marak tersebar di medsos, bisa kemungkinan benar dan bisa juga tidak benar. Anehnya di negeri ini yang menyuarakan anti syiah (Iran) justru dianggap anti damai dan toleran, sedangkan yang menyuarakan anti wahabi (Arab Saudi) berarti nasionalisme dan Islamnya sudah bagus.

Jujur saja! Kita sepertinya lebih takut dengan wahabi daripada syiah. Padahal Arab Saudi yang merupakan representatif dari Wahabi ialah negeri yang penuh berkah, sejahtera, damai, aman dan sentosa. Bahkan baru-baru berinvest ratusan triliun untuk bumi pertiwi, silahkan anda bandingkan bantuan China atas negeri ini dengan segala embel-embelnya.

Namun di mata para pendengki Arab Saudi selalu dipandang sebagai musibah,  penuh laknat dan segala keburukan lainnya, bahkan kota suci Mekah disandingkan dengan Las Vegas karena kegemerlapannya, padahal ini hanyalah apriori semata.

Setiap kubu masing-masing ada pengikutnya, Allah berada di kubu yang hak, sedangkan setan merupakan pemimpin para pengikut kesesatan. Inilah sunnatullah yang sudah berlangsung jauh sebelum kita hadir. Kerugian hanya milik para pendusta, pelaku kebatilan dan orang-orang yang kufur.

Cukup firman Allah Ta’ala bagi kita:

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah: “Allah”, dan sesungguhnya kami atau kamu pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. (QS. Saba: 24)

Menanti episode selanjutnya (Saudi VS Iran beserta sekutu masing-masing) sebagai gambaran akhir zaman.

————–

Oleh: Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc M.A

Pengasuh Halaman Komunitas ISCO (Islamic Studies Center Online)

Pembelajar sepenggal masa, belajar menuangkan setetes pemikiran menjadi tulisan ringan, berharap makna bagi sesama. Pengasuh situs lulusan Ponpes Modern Darunnajah Bogor, S1 Univ. Al Azhar Kairo Republik Arab Mesir Fakultas Ushuluddin Jurusan Hadist dan Ilmu-ilmunya, S2 Univ. Cidi Mohammed ben Abdellah Kota Fez Kerajaan Maroko bidang Kaidah Fiqih dan sedang menyelesaikan pendidikan S3 ilmu tafsir di PTIQ Jakarta.

Leave A Reply

linked in share button