82 views

Fenomena Manis di Bibir

0

 

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi [1].’ (QS. Al Hajj; 11)

Seorang lelaki yang kurang baik, ia berharap pendamping hidupnya perempuan baik-baik, cantik jelita dan pandai mendidik anak.

Begitu sebaliknya, perempuan yang kurang baik, ia amat berharap mendapat imam yang hebat, tampan,  rajin ibadah dan pastinya kaya raya.

Pada umumnya pasangan yang baru menikah, mereka sangat berharap mendapat momongan yang kelak berguna bagi agama,  bangsa dan negara, hal ini lumrah, walau terkadang bapak atau ibunya  sebenarnya kurang peduli perkara halal haram.

Kita mungkin pernah mendengar, seorang lelaki atau perempuan yang kurang baik, memasukkan anak-anaknya sekolah agama, berharap anaknya menjadi orang baik dan tidak mengikuti jejak orangtuanya, walaupun tiada jaminan anaknya jadi orang baik sesuai harapan orangtuanya yang kurang baik, terkadang seorang santri bisa ‘lebih nakal’ dari kalangan non santri.

Kita juga sering mendengar, si fulan, tetangga atau mungkin kerabat,  anaknya begitu nakal, melawan kedua orangtuanya, kehidupannya amburadul layaknya benang kusut, orangtuanya memaksa anaknya ke sebuah pesantren, dengan harapan anaknya  sadar. Maka tak heran jika di pesantren ada saja ‘anak-anak nakal’ yang asalnya begajulan.

Sedikit cerita,  kami pernah mondok tahfidz Al Quran di sebuah dusun, jauh dari keramaian, kami mendapati seorang tamu yang sedang berkelana dan mampir ke tempat kami, iapun berbagi cerita, usianya sekitar 40 tahun, namun tahukah anda, apa yang diceritakannya membuat kami kaget, semuanya tentang dosa-dosa besar yang  pernah dilakukannya, ia ingin agar Tuhan  memaafkannya, makanya ia pergi ke pesantren-pesantren.

Dalam Islam ketika seseorang ingin bertaubat cukup tutup rapat-rapat kesalahannya dan bertekad untuk menjadi orang baik apalagi berhubungan dengan hak-hak Allah yang ia langgar ,  jikapun ada hak manusia yang dilanggar maka segera meminta maaf kepada yang bersangkutan.

Menjadi orang baik adalah harapan kita semua, dalam kehidupan  sosial, orang baik bisa saja berubah menjadi orang fasik, begitu sebaliknya orang yang kurang baik, hina dan durhaka di akhir hayatnya bisa saja menjadi manusia yang mendapat rahmat Allah Ta’ala kemudian masuk ke dalam surgaNya.

Pasangan suami isteri terkadang ada yang keduanya baik, salah satunya baik, atau bahkan keduanya buruk.

Dalam perjalanan biasanya jika pasangan suami isteri, salah satunya kurang baik, ada tiga kemungkinan yang akan terjadi.

Pertama, ikut rusak karena pasangannya memang kurang baik

Kedua, menjadi baik lantaran luluh dengan pasangannya yang baik

Ketiga, mereka berpisah karena berbeda prinsip atau ada faktor x alias orang ke-3,  bisa campur tangan mertua/orangtua,  ipar, saudara atau bisa juga selingkuh.

Tahukah anda?

Untuk menjadi orang baik bukan saja dengan keinginan karena tidak semua bisa terkabul, bahkan kita dapati orang-orang yang ingin berubah, namun ia tak pernah berubah. Kenapa demikian?

Ingin hafal Qur’an, tapi hanya pandai mencurah isi hati.

Ingin berhenti merokok, tapi masih hidup di lingkungan perokok

Ingin sukses, tapi menghalalkan segala cara

Ingin kaya, tapi ternyata sedang mengigau

Ingin kedudukan, tapi dengan menjilat dan menyuap

Ingin pintar, tapi malas belajar

Ingin populer, tapi menggadaikan harga diri

Ingin anak-anak shaleh, tapi malas berdoa dan makan dari hasil haram

Ingin rumah tangga SAMARA, tapi pola hidup jauh dari nilai-nilai agama dan salah pilih tauladan

Semua pada akhirnya hanya berhenti di ujung lidang, bertepi tanpa makna, pengorbanan, perjuangan dan keyakinan. Alamak…

Tahukah anda?

Perubahan seseorang bukan saja didasari karena keinginannya, tapi ada tekad dan ACC atau taufik dari Allah Ta’ala untuk memudahkan jalannya, maka barangsiapa yang berdoa dan bersungguh-sungguh ingin berubah, disana ada jalannya. Insya Allah

‘Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.’ (QS. Al Baqarah; 186)

Tahukah anda?

Imam Syafie rahimahullah, dari masa kanak-kanak ia sudah yatim, namun karena kegigihan dan doa Ibunya, ia menjadi anak yang cerdas dan berilmu, semua orang tahu keutamaan imam Syafi’e, Imam Ahmad salah seorang muridnya, ia begitu kagum akan kecerdasan dan keshalehan sang guru. Ia pun tak pernah bosan untuk mendoakan gurunya.

Imam Ahmad rahimahullah ketika kecil sering dihantarkan oleh ibunya pergi ke masjid, hal inipun menjadi bagian dari proses kesuksesannya menjadi ulama besar, peran ibu sangat berpengaruh dalam mengantarkan anak-anaknya menjadi orang shaleh.

Di tempat kami tinggal, ada seorang anak yang masih duduk di bangku SD, ia begitu rajin pergi ke masjid, dalam pengamatan kami ia berbeda dengan anak-anak di usianya, ia lebih tertib dan tidak suka membuat kegaduhan, kamipun bertanya, dengan siapa kamu kesini dan siapa yang mengajarkan kamu seperti ini, ia menjawab “MAMAH”.

Dalam banyak kesempatan ibunya memang selalu hadir mengantarkannya, kendati bukan jaminan ia menjadi anak shaleh kelak, paling tidak orangtua sudah berusaha mengarahkannya untuk memperoleh kebenaran sesuai dengan isyarat surat Al Baqarah ayat 186 yang berbunyi ‘La’allahum yarsyuduun’ , adapun hasilnya menjadi urusan Allah semata, manusia hanya berusaha maksimal dan menguatkannya dengan doa tanpa bisa intervensi kehendak Allah Ta’ala.

Tahukah anda?

Banyak orang ingin berubah, namun  ia mengalami kesulitan, hal yang membuat seseorang sulit berubah, karena dunia lebih dominan dalam kehidupannya alias tergila-gila dunia atau memilih senang untuk berada di bawah ketiak dunia, bukan berarti seseorang tidak boleh membangun istana dan kerajaan bisnis, boleh-boleh saja jika mampu, namun menggapai redho Ilahi harus di nomor satukan di atas segalanya.

‘Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka),’ QS. Al Hadiid; 16)

Mari kita renungkan, umur kita hanya sesaat jika dibandingkan dengan kehidupan akherat, berapa banyak amal kebajikan yang sudah kita perbuat, siapkah kita menerima keputusan, kalau timbangan kebaikan kita hanya sedikit.

Seseorang yang ingin berubah, hendaknya membuka mata hatinya,  manusia memang tempat salah dan dosa tak terkecuali penulis artikel, kamipun banyak kekhilafan,  namun selama kematian belum memisahkan, kita masih bisa menambah pundi-pundi kebajikan, terus pupuk keimanan dengan niat yang kuat, doa dan banyak belajar dari pengalaman hidup.

Mudah-mudahan Allah Ta’ala memudahkan urusan kita semua, agar bisa berubah ke arah yang lebih bermakna sesuai harapan tanpa harus berakhir di ujung lidah.

Yang terpenting adalah sukses mengakhiri kehidupan yang teramat singkat ini namun sangat menentukan, kalaupun kita sudah berada di alam kubur, setidaknya ada investasi yang dahulu kita perjuangkan yang akan menjadi penambah amalan untuk disempurnakan pada hari kiamat.

  1. Shadaqah jariah,
  2. Ilmu yang bermanfaat
  3. Anak shaleh yang senantiasa mendoakan orangtuanya.

Semoga bermanfaat.

[1] . Maksudnya: tidak dengan penuh keyakinan.


———–

Oleh: Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc M.A

Pengasuh Halaman Komunitas ISCO (Islamic Studies Center Online)

Pembelajar sepenggal masa, belajar menuangkan setetes pemikiran menjadi tulisan ringan, berharap makna bagi sesama. Pengasuh situs lulusan Ponpes Modern Darunnajah Bogor, S1 Univ. Al Azhar Kairo Republik Arab Mesir Fakultas Ushuluddin Jurusan Hadist dan Ilmu-ilmunya, S2 Univ. Cidi Mohammed ben Abdellah Kota Fez Kerajaan Maroko bidang Kaidah Fiqih dan sedang menyelesaikan pendidikan S3 ilmu tafsir di PTIQ Jakarta.

Leave A Reply

linked in share button