66 views

Gemerlap Kota Besar dan Perjuangan Kaum Hawa

0

Di sela-sela mendampingi syeikh asal Yaman yang mewakili lembaga pencetak para hafidz Qur’an di seluruh dunia. Beliau bertanya kepada saya sambil memandangi gemerlap ibu kota dari atas hotel berbintang nan megah.

Kebetulan kami ditempatkan dalam satu kamar di lantai 7, beliau sedikit heran selama perjalanan menuju hotel tempat berlangsungnya seminar internasional Al Qur’an yang diadakan Kementriaan Agama beberapa waktu lalu.

Keheranan beliaupun diungkap menjadi pertanyaan yang sedikit menggelitik perihal betapa banyak perempuan yang bekerja melebihi para lelaki dan bertebaran dimana-mana.

Kemudian beliau berkata bagaimana keadaan seorang perempuan yang berasal dari luar kota atau pulau yang bekerja di Jakarta, dimana ia tinggal dan bersama siapa?

Apakah keluarga mereka mengijinkan?

Hmm…saya pun tak segera menjawab, terdiam sejenak, menarik nafas dan berpikir keras untuk menjawab pertanyaan yang membuat dahi saya agak mengkerut.

Saya pun menyampaikan kepada beliau, biasaya para perempuan yang merantau ke kota besar untuk bekerja tinggal dengan kerabat atau saudaranya itu pun kalau ada, jika tidak ada, biasanya mereka menyewa tempat atau ngontrak.

Syeikhpun hanya mengangguk-nganggukkan kepalanya mengisaratkan ucapan “ohhhh begitu”.

Kemudian sayapun menambahkan, namun itu semua tidak berlaku bagi keluarga yang bergepang teguh kepada ajaran agama. Biasanya mereka tidak mengijinkan anak perempuannya untuk melanglang buana tanpa pendamping. Jadi hal seperti ini kembali kepada keluarga masing-masing.

Syeikhpun tersenyum mendengar jawaban ini mengisaratkan ternyata masih ada mereka yang senantiasa berpegang teguh kepada agama.

Beginilah perjuangan kaum hawa di bumi pertiwi, mereka berjuang layaknya para lelaki, pergi pagi bahkan saat mentari belum menampakkan diri hingga petang bahkan larut malam, tak sedikit mereka yang lembur dari malam hingga pagi layaknya para buruh.

Ketika menonton televisi, kebetulan tentang gosip selebriti, singkat cerita isinya seputar seorang perempuan yang hidupnya banting tulang membiayai keluarga dan suaminya. Namun perjalanan hidup tak selamanya mulus. Ternyata ia merasa disakiti oleh para lelaki, kegagalan demi kegagalan membuatnya frustasi untuk menikah kembali.

Tak heran saya mendapati para perempuan cantik jelita, pintar dan sukses dalam karir namun rela melajang di usia mereka yang tak lagi muda, mungkin dari sini saya bisa mengambil pelajaran bahwa kepedihan seorang perempuan bukan dalam derasnya menjalani arus kehidupan namun salah pilih pendamping. Dalam keadaan seperti ini melajang mungkin lebih baik bagi mereka atau ada alasan privasi lain yang kita tidak bisa ikut campur.

Inilah kehidupan dengan segala lika-likunya. Ah! Saya jadi teringat sahabat saya dari Libya ketika sama-sama mengambil program Master di Maroko. Ia bertutur bahwa di negeri kami ada sebuah desa terpencil dimana tiada perempuan yang keluar rumah apalagi jalan-jalan jika waktu sudah sore.

Ya itulah fakta bahwa para perempuan di seberang sana hidup bak ratu, mulia, terhormat, terjaga dan tahu diri. Namun entah kenapa di negeri entah berantah para perempuannya ingin sama seperti laki-laki atas nama kebebasan. Tidakkah kita mengetahui bahwa perempuan dan laki-laki tidak lah sama sampai kapanpun.

Dalam pandangan saya, kenakalan remaja atau kedurhakaan anak maupun kebodohan disebabkan orangtuanya, kemana peran mereka, tidakah ibu dan bapaknya hadir, jika sang ayah sibuk kemudian kemana peran ibu dalam mendidik anak-anaknya?

Tidakkah kita mengetahui sebuah ungkapan ;

‘Al ummu Hiya Madrasatun” Ibu adalah lembaga pendidikan (paling baik).

Kesimpulannya jika ada anak nakal, manja, jauh dari kemandirian, dan selalu berulah maka coba lihat siapa ibunya dan apa pekerjaannya?

Terkadang seorang ibu bisa sukses namun anaknya justru gagal. Dalam hal ini kedudukan ayah juga penting, namun ibu jauh lebih penting dalam mencetak generasi yang unggul dan beradab.

Makanya tak heran jika kehilangan seorang ibu akan berdampak pada kurangnya kasih sayang, adapun kehilangan seorang ayah biasanya pada masalah ekonomi.

Anehnya di zaman sekarang justru banyak anak yang lebih dahulu menjadi yatim piatu kendati orangtuanya masih hidup.

Lain halnya jika perempuan tersebut hidup sebatang kara, tiada yang melindungi dan menafkahi maka sah-sah saja baginya mencari kehidupan untuk tetap bertahan hidup dengan catatan mencari pekerjaan yang halal dan jauh dari fitnah.

Sebagai penutup hukum perempuan bekerja boleh-boleh saja selama tidak mengundang fitnah bagi dirinya yang bisa menjerumuskannya ke dalam kejahilan atau kemaksiatan atau bisa membuatnya menelantarkan kewajiban dalam hidup berumah tangga.

Namun untuk tetap berada di dalam rumah itu jauh lebih utama sesuai dengan firman Allah Ta’ala:


“Dan hendaklah kamu (segenap mukminat) tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.” (QS. Al Ahzab: 33)

————–

Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc M.A

Pengasuh Halaman Komunitas ISCO (Islamic Studies Center Online)

Pembelajar sepenggal masa, belajar menuangkan setetes pemikiran menjadi tulisan ringan, berharap makna bagi sesama. Pengasuh situs lulusan Ponpes Modern Darunnajah Bogor, S1 Univ. Al Azhar Kairo Republik Arab Mesir Fakultas Ushuluddin Jurusan Hadist dan Ilmu-ilmunya, S2 Univ. Cidi Mohammed ben Abdellah Kota Fez Kerajaan Maroko bidang Kaidah Fiqih dan sedang menyelesaikan pendidikan S3 ilmu tafsir di PTIQ Jakarta.

Leave A Reply

linked in share button