57 views

Isteri Kerja, Suami Ngurus Anak? (Bag.1)

0

Dalam kehidupan nyata banyak kita temukan sepasang suami isteri sepakat melakukan pembagian kerja yang mereka anggap menguntungkan bagi kedua belah pihak, suami mengurus dan menjaga anak-anak di tanah air, sementara isteri bekerja sebagai TKW di negeri orang, pertanyaannya sekarang adalah apakah kesepatakan bilateral ini sesuai dengan ajaran Islam?

Dalam kehidupan bersosial manusia tidak lepas dari hak dan kewajiban, sebagai contoh saat seseorang menjadi pelajar maka baginya memiliki hak dan kewajiban sebagai seorang pelajar, kewajibannya membayar iuran sekolah perbuan atau persemester sedangkan haknya adalah mendapat pendidikan yang layak dan mendapatkan ijazah ketika lulus ujian akhir.

Contoh lainnya yaitu saat kita terjun ke dunia organisasi maka kita akan mendapat hak dan kewajiban sebagai anggota atau pengurus organisasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku di organisasi.

Begitu juga saat seseorang bekerja tentu mempunyai hak dan kewajiban, haknya adalah mendapat jaminan dari tempatnya bekerja berupa gaji pokok dan tunjangan-tunjangan, adapun kewajibannya adalah bekerja dengan baik sesuai aturan yang berlaku di tempatnya bekerja, sehingga tidak ada istilah “memakan gaji buta”.

Begitu juga dalam ajaran Islam tidak memaksakan orang lain yang bukan beragama Islam untuk memeluk agama Islam, ajaran Islam sejatinya penuh dengan toleransi, karena bagimu agamamu dan bagiku agamaku, begitulah prinsip yang terkandung dalam ajaran Islam mengenai toleransi beragama, dengan demikian tidak berlaku hak dan kewajiban bagi non Islam kepada ajaran Islam untuk berIslam.

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut[[1]] dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (QS. Al Baqarah: 256)

Namun bagaimana jika seseorang sudah beragama Islam atau menyatakan diri sebagai seorang muallaf, apakah berlaku baginya hak dan kewajiban terhadap ajaran Islam?

Iya, berlaku baginya hak dan kewajiban yang harus dipenuhi sebagai seorang muslim, seorang muslim mempunyai kewajiban dengan melaksanakan perintah Allah Ta’ala seperti shalat, puasa Ramadhan, membayar zakat, pergi haji bagi yang mampu dan ini hanya berlaku bagi muslim bukan pada non muslim. Adapun bagi muallaf mereka senantiasa mendapatkan bagian dari zakat karena Islam memuliakan mereka dengan membantu secara ekonomi. Sedangkah hak seorang muslim yaitu mendapat pahala disisi Allah Ta’ala dan mendapat kebaikan berupa surga kelak dengan izin dan rahmatNya.

Lalu bagaimana dengan kehidupan berumahtangga, apakah terdapat hak dan kewajiban bagi suami isteri ?

Dalam keluarga tentu terdapat hak dan kewajiban yang harus dipenuhi satu sama lainnya, hak dan kewajiban suami isteri tertulis dengan jelas sebagai sebuah kesepatakan antara keduanya di buku akta pernikahan saat mereka mengikat sebuah perjanjian yang kokoh di hadapan penghulu, saksi, para tamu undangan dan Allah Ta’ala.

Berikut saya coba kutip beberapa penggal kata atau nasehat yang ada di buku nikah Kementerian Agama Republik Indonesia :

“Untuk mewujudkan keluarga sakinah, kedua pihak hendaknya menjunjung tinggi hak dan kewajiban masing-masing, saling cinta dan kasih, saling menghormati dan memuliakan, serta saling mengingatkan untuk selalu taat dan beribadah kepada Allah SWT.”

Untuk lebih jelasnya apa saja hak dan kewajiban yang tertera di buku nikah, alangkah baiknya bagi anda yang sudah menikah untuk membukanya kembali sambil membaca dan merenunginya.

Jika kita renungi, seorang perempuan atau isteri yang bekerja di dalam negeri saja, mereka harus berjuang untuk tetap memenuhi hak dan kewajibannya dalam keluarga dan dalam memberikan kasih sayang serta pendidikan terhadap anak-anaknya.

Betapa tidak mudahnya seorang isteri yang bekerja siang malam di luar rumah, menguras pikiran seharian, lalu letih saat kembali ke rumah, belum lagi hari-harinya habis dengan orang lain daripada dengan  keluarganya sendiri kecuali akhir pekan itupun jika tidak ada lembur atau urusan mendadak soal pekerjaan. Ya inilah konsekuensi pekerja.

Berpisah dalam waktu yang cukup lama dengan bekerja melanglangbuana hingga ke luar negeri sebagai TKW, apakah semua hak dan kewajiban dalam keluarga dapat terpenuhi?, perempuan yang bekerja di dalam negeri saja masih berjuang untuk tetap memenuhi hak dan kewajiban karena hal ini tidak mudah, maka tak jarang mereka menitipkan anak-anak mereka kepada pengasuh atau pembantu rumah tangga.

Lalu apakah bedanya antara membujang dengan berumah tangga kalau hak dan kewajibannya tidak dipenuhi bahkan sering dilanggar?

Referensi;

  • Yaqub, Ali Mustafa, 2007, Fatwa Imam Besar Masjid Istiqlal, Pustaka Firdaus, Jakarta
  • Al Wadi’i, Ummu Abdulllah Bint As-syeikh Muqbil bin Hadi, 2005, Nashiihatii Linnisaai, Darul Atsar, Sana’a
  • As-Sirbuny, Abdurrahman Ahmad, Fadhilah Wanita Shalilhah,

Pustaka Nabawi, Cirebon

  • Asy-Syibli, Ubaid, Wanita Pilihan, Lintas Media, Jombang
  • Ghanim, Wajdi, 2006, Ath-Thariqu ila As-Sa’aadati Az- Zaujiyah, Darussalam, Kairo

BERSAMBUNG KE BAG. 2… Insya Allah

————

[1]. Thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah s.w.t.

————–

Oleh: Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc M.A

Pengasuh Halaman Komunitas ISCO (Islamic Studies Center Online)

Pembelajar sepenggal masa, belajar menuangkan setetes pemikiran menjadi tulisan ringan, berharap makna bagi sesama. Pengasuh situs lulusan Ponpes Modern Darunnajah Bogor, S1 Univ. Al Azhar Kairo Republik Arab Mesir Fakultas Ushuluddin Jurusan Hadist dan Ilmu-ilmunya, S2 Univ. Cidi Mohammed ben Abdellah Kota Fez Kerajaan Maroko bidang Kaidah Fiqih dan sedang menyelesaikan pendidikan S3 ilmu tafsir di PTIQ Jakarta.

Leave A Reply

linked in share button