70 views

Isteri Kerja, Suami Ngurus Anak? (Bag.Akhir)

0

 

Berpisah dalam waktu yang cukup lama dengan bekerja melanglangbuana hingga ke luar negeri sebagai TKW, apakah semua hak dan kewajiban dalam keluarga dapat terpenuhi?, perempuan yang bekerja di dalam negeri saja masih berjuang untuk tetap memenuhi hak dan kewajiban karena hal ini tidak mudah, maka tak jarang mereka menitipkan anak-anak mereka kepada pengasuh atau pembantu rumah tangga.

Lalu apakah bedanya antara membujang dengan berumah tangga kalau hak dan kewajibannya tidak dipenuhi bahkan sering dilanggar?

Adakah jaminan kesetiaan antara suami isteri yang terpisahkan oleh jarak, ruang dan dinding waktu yang begitu lama?

Apakah hanya dengan  materi dan kemapanan, kebutuhan batiniah dan psikologis seseorang bisa terpenuhi?

Anak-anak merupakan tanggung jawab suami isteri yang harus diperhatikan. Jangan sampai karena alasan ekonomi/duniawi, seorang anak menjadi “yatim” atau ‘piatu” lantaran ditinggal oleh ibunya dalam waktu cukup lama. Kasih sayang ibu adalah hak anak paling asasi dan amat fundamental dalam pembentukan kepribadiannya.

Salman Al-Farisi berkata pada Abu Darda :

“Sesungguhnya Tuhanmu itu mempunyai hak atasmu, dirimu juga mempunyai hak atasmu dan keluargamu juga mempunyai hak atasmu.” Kemudian perkataan ini dilaporkan kepada Nabi SAW. “Benar sekali apa yang dikatakan Salman,” komentar Nabi SAW. (HR. At-Tirmidzi)

Dalam pengamatan saya selama berada di tanah Arab, banyak menemukan fenomena sosial terkait tenaga kerja perempuan, sebagian besar mereka meninggalkan suami dan anak-anaknya di tanah air.

Sayapun mendapati begitu banyak tenaga kerja perempuan bekerja di luar negeri khususnya negara-negara Arab dan negara di kawasan teluk, setiap kali hendak bepergian ke timur tengah atau hendak transit di kawasan negara teluk, biasanya pesawat yang kita tumpangi dipenuhi oleh tenaga kerja perempuan yang jumlahnya lebih banyak dari tenaga kerja laki-laki, hal ini menjadi pemandangan yang lumrah bagi mereka yang suka bepergian ke timur tengah atau bagi petugas imigrasi.

Tak heran setiap kali terjadi perbincangan dengan para tenaga kerja, pertanyaan yang terlontar pertama kali adalah, anda bekerja di negara mana? Bukan anda sedang belajar di negara mana?

Teringat dalam perjalanan pulang ke tanah air dari Riyadh-Arab Saudi di akhir tahun 2012, saya duduk bersampingan dengan seorang TKW dan seorang ibu yang baru selasai umroh, selama perjalanan saya dan seorang ibu senantiasa mendengar kisah memilukan dari seorang TKW yang sudah bertahun-tahun belum pulang ke tanah air, singkat cerita dia membicarakan perihal kurangnya ikatan emosional dengan anaknya dan juga menceritakan prilaku suaminya karena mempunyai pujaan hati yang lain.

Melihat banyaknya fenomena yang menimpa tenaga kerja  di luar negeri, saran saya jika seorang perempuan yang bekerja di luar negeri ingin mendapat ketentraman dan keharmonisan seyogyanya mereka memborong keluarganya untuk ikut mendampinginya, akan tetapi hal ini tidak mudah karena terkendali biaya dan prosedur birokrasi.

Prof. KH. Ali Mustafa Yaqub rahimahullah selaku imam besar masjid Istiqlal terdahulu ketika ditanya perihal seorang isteri yang bekerja di luar negeri menjawab :

Memenuhi hak dan kewajiban dengan sebaik-baiknya merupakan ajaran Islam yang wajib ditaati. Dan seorang yang telah menikah, maka ia akan menjadi multi fungsi sebagai isteri atau suami, sebagai ayah, ibu, guru dan panutan bagi anak-anaknya, sebagai anak bagi mertuanya dan seterusnya. Masing-masing fungsi mempunyai hak dan kewajiban yang wajib dipenuhi.

Ditambahkannya lagi: Kalau masalah ekonomi yang menjadi sentral “perpisahan” antara suami dan isterinya atau antara ibu dengan anaknya, sehingga menyebabkan terbengkalainya hak dan kewajiban, beliau menyarankan untuk berusaha mengais rizki di tanah air saja, dengan meyakinkan kalau rizki sudah ditentukan porsinya masing-masing oleh Allah Ta’ala.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Wahai para umat manusia, bertakwalah kepada Allah dan berbuat baiklah dalam mengais rizki! Sesungguhnya seseorang tidak akan meninggal hingga semua ketentuan rizkinya diberikan.” (HR. Ibnu Majah)

Prof. KH. Ali Mustafa Yaqub rahimahullah juga menegaskan perihal seorang isteri yang menafkahi keluarga dengan mengatakan sekiranya ada perempuan (isteri) yang memberi nafkah keluarga karena berbagai sebab dan ia rela, maka itu tidak ada masalah baginya.

Tapi andai ia tak rela, maka hukum Islam memberikan jalan keluar. Ia dapat mengajukan gugatan cerai ke pengadilan agama, karena ia tidak mendapat nafkah dari suami. Dalam ajaran Islam dikenal dengan istilah “Khulu” yaitu gugatan cerai yang dilayangkan oleh seorang isteri kepada suami.

Dan tampaknya, perempuan yang menafkahi keluarga itu hanya kasus yang seyogyanya tidak terjadi, karenanya itu tidak dapat mengubah aturan dalam Islam, artinya hak-hak dan kewajiban suami isteri tetap seperti semula dengan membebankan kewajiban untuk nafkah keluarga kepada suami.

dan kewajiban ayah (yang dianugrahi putra) memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf.  (QS. Al Baqarah: 233)

Petunjuk Al-Qur’an ini tentu harus difahami dan diikuti oleh umat Islam (khususnya para lelaki) agar mereka memperoleh kebahagiaan hidup di dunia maupun di akhirat.

Karenanya hikmah Allah Ta’ala menghendaki fisik lelaki diciptakan lebih kuat dari fisik para perempuan, tiada lain agar para lelaki bisa bekerja keras, bersaing, bertanggung jawab, tahan cuaca untuk menafkahi keluarga, menjadikan isterinya sebagai ratu dalam rumah tangga dan bukan menjadikan isterinya bak buruh.

Semoga bermanfaat

Referensi;

  • Yaqub, Ali Mustafa, 2007, Fatwa Imam Besar Masjid Istiqlal, Pustaka Firdaus, Jakarta
  • Al Wadi’i, Ummu Abdulllah Bint As-syeikh Muqbil bin Hadi, 2005, Nashiihatii Linnisaai, Darul Atsar, Sana’a
  • As-Sirbuny, Abdurrahman Ahmad, Fadhilah Wanita Shalilhah,

Pustaka Nabawi, Cirebon

  • Asy-Syibli, Ubaid, Wanita Pilihan, Lintas Media, Jombang
  • Ghanim, Wajdi, 2006, Ath-Thariqu ila As-Sa’aadati Az- Zaujiyah, Darussalam, Kairo

———

Oleh: Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc M.A

Pengasuh Halaman Komunitas ISCO (Islamic Studies Center Online)

 

Pembelajar sepenggal masa, belajar menuangkan setetes pemikiran menjadi tulisan ringan, berharap makna bagi sesama. Pengasuh situs lulusan Ponpes Modern Darunnajah Bogor, S1 Univ. Al Azhar Kairo Republik Arab Mesir Fakultas Ushuluddin Jurusan Hadist dan Ilmu-ilmunya, S2 Univ. Cidi Mohammed ben Abdellah Kota Fez Kerajaan Maroko bidang Kaidah Fiqih dan sedang menyelesaikan pendidikan S3 ilmu tafsir di PTIQ Jakarta.

Leave A Reply

linked in share button