130 views

Keagungan Sabar (Bag. 1)

0

واصبر وما صبرك إلّا بالله

‘Bersabarlah dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.’

Kalam Ilahi di atas dari surat An Nahl Ayat 127 juz 14 merupakan ayat yang agung, karena di dalamnya tersirat pesan mendalam, walaupun sebenarnya ayat ini ditujukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, paling tidak kita sebagai umatnya bisa mengambil pelajaran dari beliau sebagai suri teladan sepanjang masa.

Betapa Allah Ta’ala menguatkan Rasulullah karena ulah kaumnya yang terus mengganggu kehidupan dan dakwah beliau, agar tidak bersedih hati dan tetap tegar dalam mengemban amanah suci membawa risalah tauhid yang menghiasi hari-harinya.

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” QS: Yusuf ayat 108 juz 13.

Oleh karenanya Allah juga memerintahkan kepada Rasulullah untuk beribadah dalam keadaan apapun sampai datang kepadanya sebuah ajal.

“Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat), (98). dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal). QS: Al Hijr ayat 97-99 juz 14.”

Sabar tiada batasnya

Al-Qur’an membahasakan ” فاصبر على ما يقولون” artinya ” Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan” , kata “yaquuluuna” dalam kaidah bahasa Arab menggunakan fi’il mudhari’ (Present Tense) yang menunjukkan perbuatan yang dilakukan pada masa ‘sekarang’ atau ‘akan datang’, jadi Allah memerintahkan untuk bersabar secara berkala bahkan terus-menerus tanpa putus.

Makanya di dalam Qur’an tidak difirmankan ” فاصبر على ماقالوا” artinya pun menjadi berbeda yaitu ” Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang (telah) mereka katakan”, kata qaalu di sini menggunakan fi’il madhi (Past Tense) yang menunjukkan suatu perbuatan yang terjadi di masa lampau, kalaupun demikian ayatnya, secara tidak langsung sabar itu ada batasnya padahal tidaklah demikian adanya.

Sebagai contoh dari gaya bahasa di atas yang disertai perintah beribadah ada di surat Qaaf ayat 39-40 juz 26:

  “فاصبر على ما يقولون وسبّح بحمد ربّك قبل طلوع الشّمس و قبل الغروب,,

ومن الّيل فسبّحه و أدبر السّجود  “

” Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka (sekarang dan akan) katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya).  Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai sembahyang.

Contoh lainnya di surat Shaad ayat 17 juz 23:

اصبر على ما يقولون

“Bersabarlah atas segala apa yang mereka (sekarang dan akan) katakan..”

Terbantahkan sudah ungkapan yang menyatakan kalau “sabar itu ada batasnya”. Kalaupun memang ada, pahalanya juga tentu terbatas, padahal balasan orang bersabar itu luar biasa, tidak terhingga, tanpa batas, ibarat orang yang tertimpa uang lembaran yang jumlahnya sampai jutaan bahkan miliaran rupiah alias kedatangan rezki nomplok atau lebih dari apa yang saya ibaratkan.

‘Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.’ QS: An Nahl ayat 96 juz 14.

Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan. QS: As Sajdah ayat 17 juz 21.

‘Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.’ QS: Az Zumar ayat 10 juz 23.

Sejatinya seorang penyabar

Jika kita perhatikan isi kandungan Al-Qur’an secara utuh akan didapati hampir semua kata-kata iman selalu diiringi dengan amal shalih, namun ada satu ayat dalam Qur’an yaitu di surat Huud ayat 11 juz 12 yang mensejajarkan iman dengan sabar karena keagungannya.

“Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar”.

Ayat sebelumnya menerangkan keadaan orang-orang yang mendapat nikmat pasca bencana, kebanyakannya luap dalam kegembiraan hingga lupa diri, lupa kalau Allahlah yang menghilangkan bencana tersebut.

Berbeda dengan para penyabar yang menyikapinya dengan tenang dan meyakini segala ketetapan Allah yang ada di dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum dijadikannya suatu bencana dan nikmat.

Hanya orang terpilih yang bisa menjadi penyabar karena kekhusyu’annya, sesuai dengan surat Al Baqarah ayat 45 juz 1: ” Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.

Bersambung ke bag. Akhir Insya Allah

————–

Oleh: Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc M.A

Pengasuh Halaman Komunitas ISCO (Islamic Studies Center Online)

Pembelajar sepenggal masa, belajar menuangkan setetes pemikiran menjadi tulisan ringan, berharap makna bagi sesama. Pengasuh situs lulusan Ponpes Modern Darunnajah Bogor, S1 Univ. Al Azhar Kairo Republik Arab Mesir Fakultas Ushuluddin Jurusan Hadist dan Ilmu-ilmunya, S2 Univ. Cidi Mohammed ben Abdellah Kota Fez Kerajaan Maroko bidang Kaidah Fiqih dan sedang menyelesaikan pendidikan S3 ilmu tafsir di PTIQ Jakarta.

Leave A Reply

linked in share button