91 views

Keindahan Bahasa Al Quran

0

 

Firman Allah Ta’ala:

“Dan tidaklah sama orang yang buta (الاعمى) dengan orang yang melihat (البصير), dan tidaklah (pula sama) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh dengan orang-orang yang durhaka. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran.” (QS. Ghafir: 58)

Memaknai Al Qu’ran tidak bisa diartikan secara harfiah, karena bahasa Arab sebagai bahasa Al Qur’an, ia kaya akan makna, ada keindahan di balik pesan yang disampaikan Robb semesta alam.

Berbeda dengan Al Kitab yang sering kali difahaminya secara harfiah tanpa adanya interpretasi secara mendalam, membacanya mengundang sebuah pertanyaan, khususnya dalam pembahasan sejarah para Nabi. Dalam masalah ini akan ada pembahasan khusus insya Allah.

Keotentikan Al Quran sangat terjaga keilmiahannya, ia juga bercerita tentang kisah umat-umat manusia, bahkan tokoh barat Dr. Maurice Bucaille dalam karyanya “La Bible, le Coran et la Science” mengutarakan bahwa Al Qur’an sangat konsisten dengan ilmu pengetahuan dan sains, sedangkan Alkitab atau Bibel kurang konsisten dan penurunannya bisa diragukan.

Jika kita perhatikan kedalaman bahasa Al Qur’an yang membandingkan antara orang yang melihat (Bashir) dengan orang buta (A’maa).

Maksud bashir, abshar maupun mubshir dalam Al Qur’an ialah mereka yang dianugerahkan ilmu yang tinggi, dengannya ia bisa melihat dan membedakan antara hak dengan batil sekalipun orang tersebut buta secara fisik atau berkebutuhan khusus, mereka itulah yang disebut dengan kalangan bertakwa. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam ayat lainnya.

وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُولِي الأَيْدِي وَالأَبْصَارِ

“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. (QS. Shaad: 45)

Dalam ayat lainnya dijelaskan;

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِّنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُم مُّبْصِرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari syaitan, merekapun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).” (QS. Al A’raaf: 201)

Adapun maksud A’maa, bukan buta matanya, karena ia bisa jadi normal serta berpenampilan menarik, tapi buta mata hatinya. Akibatnya ia mengalami kesulitan untuk membedakan antara hak dengan batil, bahkan seringkali ia mencampuradukkannya. Hal demikian terjadi karena manusia tidak memfungsikan akal pikiran, hati nurani dan selalu menolak kebenaran.

Dan Jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (Rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: “Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh”. (QS. Fushshilat: 44)

Semoga Bermanfaat

————–

Oleh: Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc M.A

Pengasuh Halaman Komunitas ISCO (Islamic Studies Center Online)

 

Pembelajar sepenggal masa, belajar menuangkan setetes pemikiran menjadi tulisan ringan, berharap makna bagi sesama. Pengasuh situs lulusan Ponpes Modern Darunnajah Bogor, S1 Univ. Al Azhar Kairo Republik Arab Mesir Fakultas Ushuluddin Jurusan Hadist dan Ilmu-ilmunya, S2 Univ. Cidi Mohammed ben Abdellah Kota Fez Kerajaan Maroko bidang Kaidah Fiqih dan sedang menyelesaikan pendidikan S3 ilmu tafsir di PTIQ Jakarta.

Leave A Reply

linked in share button