56 views

Kelezatan Bertaubat (Bag. 1)

0
Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An Nuur: 31)
  •  Bukan dunia dengan segala aksesorisnya jika tak mengobsesi !!
  • Bukan Iblis dengan segala kelihaiannya jika tak menggoda !!
  • Bukan pula manusia dengan segala kelemahannya jika tak terobsesi dan tergoda !!

Seorang penjahat yang terpenjara bisa lebih mulia jika kelalaiannya diiringi penyesalan di akhir hayatnya dan terkadang manusia merdeka bahkan oknum aparat berseragam sejatinya bisa lebih hina tatkala hidupnya dipenuhi kesombongan, kezaliman, kemurkaan dan kebanggaan semata hingga ajal menjemput tanpa sempat bertaubat.

  • Adakah manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan atau berbuat dosa?

Adakah manusia itu di dunia?

  • Adakah manusia yang tidak pernah bersalah kepada Tuhannya, kepada rasulnya, kepada keluarganya, kepada tetangganya, temannya dan lingkungannya ?
  • Adakah manusia itu hadir di sekitar kita?

Jawabannya tidaklah ada, bahkan seribu kali kata tidak ada, yang ada malah manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan tidak akan pernah ada di dunia. Untuk itu marilah kita terus bertaubat setiap hari, karena sebaik-baik manusia adalah yang bertaubat atas segala khilaf dan salahnya.

Maka barangsiapa bertaubat sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Maa-idah: 39)

Taubat dalam ajaran Islam berarti kembali kepada ketaatan dan memutuskan jalan terhadap kemaksiatan, kembali kepada Allah Ta’ala dengan sebenar-benar taubat, sedangkan dalam pelaksanaannya taubat harus melalui beberapa tahapan sebagai sebuah tuntunan yang benar.

عَنْ أَبي ذَرٍّ ومعاذِ بن جَبَلٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُما -: أنَّ رَسولَ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – قال:
اتَّقِ الله حَيثُمَا كُنْتَ، وأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمحُهَا، وخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. رواه التِّرمِذيُّ وقال: حَديثٌ حَسَنٌ صَحيحٌ.

Dari Abu Dzar Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda :

“Bertakwalah kepada Allah dimanapun kalian berada dan ikutilah keburukan dengan perbuatan baik yang dapat menghapusnya dan berakhlaklah kepada manusia dengan akhlak yang baik.” Diriwayatkan oleh At Tirmidzi dan beliau berkata : Hadist hasan sohih.

Kalaupun manusia berbuat dosa berkali-kali setiap hari, kemudian ia bertaubat kembali sesuai dengan persyaratannya, maka Allah Ta’ala akan mengampuni dosa-dosanya dan ini adalah kabar gembira bagi setiap insan yang merindukan kebahagiaan, karena belas kasih dan kemurahan yang agung tiada tara berupa pengampunan, karunia, kebaikan dan kasih sayang.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda :

“Tidaklah dikatakan orang yang terus menerus berbuat dosa jika dia memohon ampunan, sekalipun dia mengulanginya sehari tujuh puluh kali.” (HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi)

Firman Allah Ta’ala;

Dan didekatkanlah syurga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya) (yaitu) Orang yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat “Awwaab”, Masukilah syurga itu dengan aman, Itulah hari kekekalan. Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya. (QS. Qaaf: 31)

Kata  “Awwaab” berarti “Orang yang kembali kepada Allah Ta’ala”. Menurut syeikh Muhammad Buqnah Asy-Syahrani Al Awwab bisa berarti mereka yang berulang-ulang jatuh ke dalam lubang kemaksiatan, namun segera dan selalu kembali kepada Tuhannya dengan memutus perbuatan yang bisa menimbulkan dosa disertai rasa menyesal dan menggantinya dengan kebajikan

 “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? (QS. Ali ‘Imran: 135)

Para pelaku taubat hendaknya jangan sekali-kali mengira mereka tidak akan diuji dan terjerumus kembali, justru ujian terbesar bagi para pendosa yang telah bertaubat ialah pintu kemudahan untuk mengulangnya. Hal demikian untuk menguji ketulusannya dalam bertaubat.

 Kemudian bagaimana jika terjerumus dalam kesalahan yang sama, maka segeralah menyesali kemudian bertaubat, jika mengulang lagi, maka bertaubat lagi, mengulang lagi, bertaubat lagi, mengulang lagi kemudian bertaubat lagi dan begitu seterusnya.  

 Ah! Betapa indahnnya pembahasan tentang taubat ini, karena disana kita akan mengenal siapa Ar-Rahman yang kasih sayangNya melebihi rasa sayang kita kepada diri sendiri. Lebih dari itu semua tiada yang membuat seorang hamba bahagia melainkan mengenal Tuhannya dengan baik dan benar. Maka berbahagialah!

Duhai jiwa!

Ketahuilah bahwa kesuksesan manusia bukanlah saat dia hidup semata, melainkan bagaimana dia mengakhiri hidup dengan penuh senyum bahagia dan kemudahan saat sakratul maut.

Tengoklah orang-orang soleh di sekitar kita yang telah dahulu meninggal dunia, sejatinya mereka adalah orang-orang berbahagia karena hidupnya dalam keadaan berIslam, pandai menjaga lidah serta pendengarannya dari hal-hal yang kurang baik, tidak mendzolimi orang lain, dirinya bersih dari penyakit hati dan matipun dalam keadaan berIslam.

Maka tak heran cita-cita orang soleh adalah mati dalam keadaan berIslam, sama halnya nabi Yusuf ‘Alaihi assalam yang dengan tulus berdoa dan doanya diabadikan dalam Al Qur’an oleh Allah Ta’ala.

 (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam Keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh. (QS. Yusuf: 101)

Semoga Allah Ta’ala menganugrahkan kita taubatan nasuha sebelum ajal menjemput. Ya Robbanaa

 Bersambung ke Bag. 2.  Insya Allah

———

Oleh: Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc M.A

Pengasuh Halaman Komunitas ISCO (Islamic Studies Center Online)

Pembelajar sepenggal masa, belajar menuangkan setetes pemikiran menjadi tulisan ringan, berharap makna bagi sesama. Pengasuh situs lulusan Ponpes Modern Darunnajah Bogor, S1 Univ. Al Azhar Kairo Republik Arab Mesir Fakultas Ushuluddin Jurusan Hadist dan Ilmu-ilmunya, S2 Univ. Cidi Mohammed ben Abdellah Kota Fez Kerajaan Maroko bidang Kaidah Fiqih dan sedang menyelesaikan pendidikan S3 ilmu tafsir di PTIQ Jakarta.

Leave A Reply

linked in share button