73 views

Kenangan Manis di Timur Tengah

0
Nuansa beragama masyarakat di Kerajaan Maroko – Afrika Utara

Pertengahan tahun biasanya jadi ajang informasi beasiswa Timur Tengah. Jujur! Kami selalu rindu dengan nuansa disana seraya mendoakan rekan-rekan yang sedang berjuang mendapat beasiswa. Semoga dimudahkan jalannya.

Timur Tengah gudangnya para ulama, satu hal yang membuat kami betah adalah geliat keilmuannya, tak heran sebagian orang menjuluki kawasan tersebut sebagai kiblat ilmu, diantara negara-negara yang direkomendasikan: Mesir, Arab Saudi, Yaman, Sudan, negeri Syam maupun maghribil Arab seperti Libya, Aljazair, Maroko, Tunisia dan Mauritania.

Takdir pernah membawa kami ke Arab Saudi, Mesir dan Maroko, selama 8 tahun di tanah Arab, disanalah segala sesuatunya bermula. Tak percuma kami memutuskan banting setir dari pendidikan umum menuju pendidikan agama, keluar dari SMP Negeri Favorit Kota menuju Pondok Pesantren di pelosok nan ndeso.

Sontak keputusan kontroversial ini sempat disayangkan keluarga karena sudah masuk tahun ke-3 SMP,  image santri terkesan ‘mundur’ dan ‘asing’, apalagi hampir tiada yang mendalami ilmu agama di lingkungan keluarga,  namun kami mantap hijrah meski harus mengulang 1 tahun di pesantren untuk penyesuaian pelajaran.

Entah apa jadinya jika kami tak mesantren, bisa jadi tak mengerti Bahasa Arab, tak mengenal ilmu hadist, fiqih, dan disiplin ilmu lainnya. Bukannya tak tergiur ilmu dunia yang “kata orang” menjanjikan masa depan, toh ketika SD dan SMP nilai Matematika dan IPA Alhamdulillah bagus, belajar Bahasa Inggris di LIA, American University di Kairo, pusat bahasa Unisba, serta bahasa Perancis di International Culture Language Foundation, Galung International Community dan mata kuliah kami ketika di Maroko.

Ketika pulang ke tanah air sempat 3 kali ikut ujian Psikotes (kampus UPI, Unisba, dan ujian masuk Doktor). Alhamdulillah semuanya lulus memuaskan walau ketika mengisi soal membuat kepala panas dan perut lapar, jatah formasi satu dosen tetap Unisba akhirnya kami sikat tanpa kedekatan orang dalam apalagi suap, padahal sebelumnya jarang sekali kami bersentuhan dan baca buku panduan. Namun setelah direnungi, buat kami ilmu agama jauh lebih penting dari segalanya. Inilah hidup, masing-masing punya pilihan. Anda pun demikian 🙂

Sedikit cerita,  ada hal yang membuat kami sangat bahagia, bisa mengenal  dan menatap orang-orang sholeh, para ulama besar serta mengambil faidah darinya, kami cinta orang-orang sholeh meski sadar betul jika diri masih jauh dari sholeh sebagaimana benci dengan orang-orang fasik meski bisa jadi diri ini lebih buruk dari mereka.

Paling tidak dari sekian buanyakkkk ulama disana. Ada dua sosok yang kami rindukan.

  1. Syeikh Muhammad Hasan Waladdadou Asy Syinqity;  Klik disini
  1. Syeikh Muhammad bin Muhammad Mukhtar Asy Syinqity;  Klik disini

Keduanya keturunan Mauritania, kata orang ‘Syanaqit’ atau kawasan Syinqity terkenal dengan kedalaman ilmunya, Al Qur’an dan Hadist menjdi makanan sehari-hari mereka, usah tanya tentang para penghafal Al Qur’an karena di sana sudah tidak asing.

Pernah suatu ketika kami tanya kepada syeikh kami dari Yaman,  beliau menjawab ‘Hum yasyrabun al ilm’,  Mereka itu sudah terbiasa memimun ilmu.

Melihat langsung ataupun mendengar kajian para masayikh bikin adem hingga berurai air mata. Semoga Allah Ta’ala menjaga mereka dan menjaga kita semua. Ya Robbanaa

———

Oleh: Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc M.A

Pengasuh Halaman Komunitas ISCO (Islamic Studies Center Online)

Pembelajar sepenggal masa, belajar menuangkan setetes pemikiran menjadi tulisan ringan, berharap makna bagi sesama. Pengasuh situs lulusan Ponpes Modern Darunnajah Bogor, S1 Univ. Al Azhar Kairo Republik Arab Mesir Fakultas Ushuluddin Jurusan Hadist dan Ilmu-ilmunya, S2 Univ. Cidi Mohammed ben Abdellah Kota Fez Kerajaan Maroko bidang Kaidah Fiqih dan sedang menyelesaikan pendidikan S3 ilmu tafsir di PTIQ Jakarta.

Leave A Reply

linked in share button