69 views

Keunikan Dialek

0

 

Perbedaan adalah fitrah, salah satu hikmahnya Allah Ta’ala ciptakan agar manusia dapat mengambil pelajaran sebagai bahan renungan dalam memaknai hakikat kehidupan.

Pernahkah anda merenungkan, bahwa karunia Allah Ta’ala begitu besar kepada makhluknya, lihatlah Indonesia, dari Sabang sampai Marauke berjajar pulau-pulau, bahkan ada belasan ribu pulau dan masih ada ribuan pulau yang belum dihuni, ratusan suku, ratusan bahasa, ragam agama serta aneka budaya ada di negeri ini, semuanya terbalut menjadi satu kesatuan dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika yaitu beragam tetapi tetap satu jua.

Betapa banyak aneka ragam di dunia, di negara-negara arab saja terdapat suku selain suku asli arab, suku kurdi di kawasan Irak, Iran, Syria, Turki dan sekitarnya serta ada suku barbar di kawasan Afrika Utara meliputi Libya, Aljazair, Maroko, Tunisia. Suku kurdi dan Barbar mempunyai bahasa yang berbeda dengan bahasa bangsa Arab.

Di negeri seribu benteng Maroko misalnya, mayoritas penduduknya adalah suku asli Barbar, disana ada beberapa bahasa, selain bahasa Arab Fushah, ada juga bahasa Darijah dan bahasa Amazer.

Darijah merupakan perpaduan antara bahasa Arab, Spanyol, Perancis dan dialek lokal. Sedangkan bahasa Amazer begitu beragam, bagi orang asing bahasa tersebut lebih sulit difahami daripada bahasa Darijah, di bagian utara Maroko ada bahasa tersendiri yaitu bahasa Rifiyah, bergeser sedikit ke arah selatan di daerah Agadhir dan sekitarnya, disana ada bahasa Susiyah, ada lagi dialek Hasaniyah yaitu bahasa yang biasa dipergunakan orang-orang di daerah Sahara, berbatasan dengan Mauritania, kawasan tersebut terkenal dengan wisata gurun pasirnya.

Dalam bahasa Arab saja ada dua tipe gaya bahasa, Fushah dan Ammiyah, sama halnya di dalam bahasa Inggris, ada British dan slang language, dalam bahasa Indonesia pun demikan, Fushah bisa diartikan sebagai bahasa Indonesia yang baku seperti gaya bahasa yang kita pelajari di sekolah, adapun Ammiyah adalah bahasa sehari-hari yang biasa digunakan dan terkadang jauh dari teori yang ada di buku.

Kata “apa kabar” jika di Ammiyahkan versi Bhineka tunggal ika, maka bisa menjadi beragam, artinyapun bisa menjadi pohaba, cak mano kabar, ba a kabanyo, boha kabar, gimane kabarnye, kumaha damang, priben kabare, piye kabare, beremma kabereh, napa habar, narai kabar, aga kareba, au haba, habar doka’sa, dan masih banyak lagi.

Dalam bahasa Arab pengucapan kata “apa kabar” bisa banyak macamnya, misalnya dalam bahasa Fushah artinya Kaifa haluk, adapun dalam dialek masyarakat Arab Saudi menjadi lebih sederhana kaif hal, sedangkan dalam dialek Mesir berubah drastis menjadi izayyak atau amil eih, jauh berbeda dengan gaya bahasa orang arab bagian barat atau lebih dikenal kawasan Maghrib al arabi meliputi Libya, Aljazair, Tunisia, Maroko dan Mauritinia, kawasan ini dikenal juga dengan daerah pewaris sejarah Andalusia, peradaban Islam di Andalusia banyak mewarnai kehidupan masyarakat Maghrib al Arabi, salah satunya interior dan bentuk bangunan masjid berkiblat kepada gaya Andalusia seperti menara la giralda di Sevilla yang kini berubah menjadi gereja.

Kawasan Maghrib al arabi terkenal dengan gaya bicaranya yang cepat dan suka menyingkat kata, kaifa haluk misalnya dalam bahasa Darijah al maghribiyah menjadi “Kidir”, asal katanya dari kaifa yudawwiru al umur, artinya kurang lebih “bagaimana keadaan anda” atau dalam bahasa Inggris bisa juga diartikan “How did your activities go.

Jawaban dari pada Kidir adalah kata “baik/tidak ada masalah”, dalam bahasa Arab Fushah “la ba’sa bih”, disingkat oleh orang Maghrib al arabi menjadi “Labas” yang mempunyai arti sama dengan “la ba’sa bih”.

Contoh lain dalam penyucapan “apa yang anda inginkan”, dalam bahasa arab Fushah “Madza turidu”, jika diartikan ke dalam dialek masyarakat arab maka akan menjadi sangat beragam, masyarakat Mesir berkata “aiz eiy”, Di Arab Saudi menjadi ‘Ish Tibgha”, adapun masyarakat kawasan Maghrib al arabi mereka mengatakannya dengan “snow begheit”.

Contoh perbedaan lain terjadi dalam bahasa Inggris yaitu pada pengucapan soccer, ada juga yang mengatakan football yang artinya sepakbola. Belum lagi dengan gaya bahasa orang Australia yang sedikit berbeda dengan orang Inggris dan Amerika, di Australia ada istilah Good Day yang berarti selamat siang, adapun di Inggris dan Amerika bahasa tersebut kurang berlaku.

Contoh lain dalam pengucapan “could i have your phone number” dalam bahasa Australia mereka mengatakannya dengan cepat sehingga terdengar seperti “cuchai have your phone number

Jika teori dasar memahami bahasa Arab dikomparatifkan dengan teori bahasa latin, maka akan jauh lebih berbeda lagi, ada catatan penting yang perlu di garis bawahi dalam memahami bahasa Arab, karena bahasa Arab sejatinya jauh berbeda dengan bahasa latin, bukan saja bersandar pada huruf seperti halnya bahasa latin, melainkan bisa juga bersandar pada harakat.

Kata “buku” misalnya, dalam bahasa Inggris disebut dengan a book (diucap : e buk), dalam bahasa Perancis un livre (diucap : ang livre), antara penulisan dan pengucapan keduanya tidaklah jauh berbeda.

Namun lain halnya dalam bahasa arab كتاب , ia mempunyai dua arti sesuai dengan cara baca, jika dibaca menjadi kitaabun maka artinya adalah buku, namum jika harakatnya berubah menjadi kuttaabun, maka artinya pun berubah menjadi “kumpulan para penulis”, oleh karenanya dalam memahami bahasa arab perlu memahami susunan kalimat dengan detail agar tidak terjebak dalam kesalahan menterjemahkan.

Bahasa adalah sebuah kekinian, karena ia mampu menghubungkan hajat banyak orang, bahasa adalah alat komunikasi terbaik sepanjang masa dan teknologi paling canggih,  karena ia mampu menyatukan perbedaan dan bahasa adalah wawasan, karena ia mampu membuka tabir yang tersembunyi pada kebudayaan atau golongan tertentu. Adakah kita pandai memetik pelajaran dari suatu keindahan ini!

Dalam ungkapan bahasa arab :

من عرف لغة قوم، سلم من مكرهم

“Man ‘arafa lughata qaumin, salima min makrihim”

Dalam bahasa Inggris :

“He who learns people language is protected from their evil”

Artinya :

Barang siapa yang mempelajari bahasa suatu kaum, maka ia akan terbebas dari tipu daya kaum tersebut.

Saat seorang turis hendak berbelanja di tempat wisata misalnya, bagi pedagang lokal biasanya akan memberikan harga tinggi, karena ia tahu sang turis tidak pandai berbahasa daerahnya. Lain halnya jika sang pembeli adalah orang setempat maka harganya akan jauh lebih murah.

Saat seseorang hendak bepergian ke luar negeri misalnya, tentu jika ia ingin aman dan terbebas dari tipu daya, maka ada baiknya ia menguasai bahasa masyarakat yang hendak dikunjunginya, apalagi jika tujuannya untuk belajar dan menetep dalam jangka waktu yang lama. Maka hal ini bisa menjadi suatu keharusan baginya.

Menurut Dr.Ahmad Bouhamdi salah seorang dosen Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Cidi Mohammed Ben Abdellah Kerajaan Maroko:

“semakin banyak seseorang menguasai bahasa asing, maka dirinya akan semakin berbudaya”.

Peradaban manusia sejatinya sudah hadir sejak ribuan tahun silam sebelum masehi, kebudayaan dan ragam bahasa sudah dipetuturkan oleh manusia sejak dahulu. Dimulai dari peradaban Mesopotamia atau Irak, peradaban Mesir kuno, Yunani, Romawi dan peradaban Islam yang dimulai di era Rasulullah.

Bahasa Semit “Semitic Language”,dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah “Lugah Samiyah”. Penamaan bahasa semit erat hubungannya dengan bahasa yang dipetuturkan sejak ribuan tahun silam sebelum masehi, bahasa ini dinisbatkan kepada anak nabi Nuh bernama Sam.

Contoh bahasa semit adalah bahasa Arab, Ibrani, Amhar dan Tigrinya. Bahasa-bahasa ini konon katanya semua hampir punah kecuali bahasa Arab yang masih terjaga keasliannnya karena adanya kitab suci Al-Qur’an. Adapun bahasa lainnya biasa disebut dengan bahasa mati karena penggunanya yang terbatas.

Corak perbedaan, gaya bahasa, warna kulit dan lain sebagainya sejatinya adalah sesuatu yang indah jika kita renungi, karena tiada keindahan selain bisa membuat seseorang berpikir akan tanda-tanda kekuasan dan kebesaran Allah Ta’ala.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS : Ar Ruum ayat 22)

————–

Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc M.A

Pengasuh Halaman Komunitas ISCO (Islamic Studies Center Online)

Pembelajar sepenggal masa, belajar menuangkan setetes pemikiran menjadi tulisan ringan, berharap makna bagi sesama. Pengasuh situs lulusan Ponpes Modern Darunnajah Bogor, S1 Univ. Al Azhar Kairo Republik Arab Mesir Fakultas Ushuluddin Jurusan Hadist dan Ilmu-ilmunya, S2 Univ. Cidi Mohammed ben Abdellah Kota Fez Kerajaan Maroko bidang Kaidah Fiqih dan sedang menyelesaikan pendidikan S3 ilmu tafsir di PTIQ Jakarta.

Leave A Reply

linked in share button