92 views

Kisah Mengharukan: Pemuda Yahudi Perancis Masuk Islam

0
Ilustrasi

Dahulu di Perancis ada seorang pemilik toko bernama Ibrahim, ia berasal dari ras Turki.

Ia tinggal di sebuah apartemen, bertetangga dengan keluarga Yahudi yang memiliki anak berumur 7 tahunan

Namanya Jad, Ia biasa berbelanja di toko pak Ibrahim, sekedar jajan layaknya anak-anak pada umumnya.

Hal menggelitik ialah kebiasaan Jad yang suka menguntit cokelat, namun tanpa disadarinya pemilik toko selalu mendiamkannya karena dianggapnya masih anak kecil.

Hingga pada suatu ketika, Jad lupa mengambil cokelat kesenangannya, ia pun keluar, kemudian segera dipanggil pak Ibrahim.

Nak,kamu lupa cokelatnya ya?

Jad kaget, ia pun ketakutan

Ia bertanya, memangnya bapak tahu ya kalau saya suka mengambil cokelat?

Pak Ibrahim tertawa mendengar pertanyaan Jad.

Ia bertanya kembali, apa bapak akan melaporkan saya ke pihak keamanan, atau kepada keluarga saya?

Tidak, begitu jawab pak Ibrahim dengan tenang dan wajah ramahnya.

Ia hanya memberi satu syarat kepada Jad jika ingin dimaklumi

Jangan kamu mencuri lagi kepadaku dan kepada yang lainnya, begitu seterusnya. Tambah Pak Ibrahim.

Mulai esok, ,lusa dan seterusnya, kamu tidak usah kawatir, karena saya akan memberikan cokelat kepadamu secara cuma-cuma.

Jad merasa senang dengan kebaikan pak Ibrahim, ia juga mengiyakan sarat yang diajukan dan berjanji tidak mengulanginya lagi. Dalam benaknya amat jarang orang berbuat seperti itu, biasanya seorang pencuri akan langsung diusir dan tidak diperkenankan datang ke tokonya lagi.

Hari demi hari, Jad pun menjadi semakin akrab dengan pak Ibrahim yang berhati mulia

Canda tawa akhirnya biasa menghiasi hari-hari mereka setelahnya.

Jad tumbuh sebagai pemuda Yahudi dalam lingkungan Eropa yang penuh corak warna.

Di usianya, ia mengalami berbagai masalah remaja dan kesulitan yang membuat hatinya sempit

Jad pun mencurahkan isi hatinya kepada pak Ibrahim, karena di matanya bapak tersebut bisa dipercaya dan menyenangkan

Pak Ibrahim dengan senang hati mendengarkan segala keluh kesah Jad yang kini sudah menjadi remaja.

Kemudian ia mengeluarkan kotak, berisi sebuah bacaan.

Jad yang seorang Yahudi, ia tidak mengetahui sebelumnya jika benda yang diperlihatkan kepadanya adalah Al Qur’an.

Kemudian pak Ibrahim memintanya untuk membuka 2 lembar dari arah mana saja kepada Jad, kemudian ia akan coba jelaskan maksudnya.

Jad mengikuti arahannya dan setiap kali dijelaskan ia merasa permasalahannya sudah terjawab, padahal hanya 2 lembar, ketika  2 lembar yang lain dibuka hal yang sama dirasakan. Entah kenapa hal itu terjadi, Jad pun bingung.

Hari terus berlanjut, hingga tiba suatu masa, pak Ibrahim tidak berjualan, karena sakit yang mengharuskannya di rawat.

Dan pada waktu itu pula takdir mengantarkan pak Ibrahim pada ajalnya.

Sebelum meninggal, ia berwasiat kepada anak-anaknya.

Jika ada seorang pemuda bernama Jad, tolong berikan kotak ini (berisi Al Qur’an) kepadanya. Begitulah pesan singkat pak Ibrahim.

Mendengar kabar duka, Jad seorang pemuda yang berasal dari keluarga Yahudi datang ke rumah pak Ibrahim.

Anak-anaknya pun tak lupa menyampaikan amanat yang diberikan orangtuanya.

Jad pun merasa bahagia akan hadiah yang diberikan pak Ibrahim, baginya ini adalah suatu kehormatan.

Hari semakin berlalu, Jad begitu kehilangan dengan sosok pak Ibrahim yang penuh dengan sejuta kenangan.

Kini, tiada lagi tempat ia mencurahkan isi hatinya sebagaimana pak Ibrahim yang membuatnya terkesima.

Ia teringat akan kotak yang diberikan pak Ibrahim, ia coba membukanya, namun semua dalam bahasa Arab.

Ia pun segera mencari orang yang bisa menerjemahkan lembarannya ke dalam bahasa Perancis

Akhirnya bertemulah dengan seseorang dari Tunisia, Jad belum mengetahui kalau itu adalah kitab suci umat Islam.

Kemudian ia pun meminta agar orang tersebut mau menjelaskan sebatas 2 lembar saja

Ketika dijelaskan, Jad mengucurkan air mata, semakin takjub, bacaan apa ini, setiap kali dijelaskan sebatas 2 lembar, seakan masuk ke relung sanubari dan menyiram ruang hampa yang yang menyejukkan hati.

Ia pun bertanya kepada orang tersebut.

Buku apa ini, sihir kah?

Bukan, tapi ini adalah bacaan kami, berasal dari Allah  yang diturunkan kepada Nabi kami Muhammad, kitab suci umat Islam, laksana cahaya, petunjuk bagi semesta dan penawar bagi penyakit hati.

Rasa penasaran Jad selama ini terpuaskan, ia akhirnya menyadari selama bertahun-tahun ternyata inilah yang membuatnya bahagia, solusi bagi setiap permasalahnnya. Hadiah yang diberikan pak Ibrahim berpengaruh besar dalam merubah hidup Jad.

Ia pun bertanya kembali,

Bagaimana caranya untuk menjadi seorang muslim?

Mudah saja, jawab orang Tunsia tersebut, cukup mengucap dua kalimat syahadat, “Aku bersaksi  bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusanNya”

Dengan segala konsekuensinya, Jad memilih menjadi seorang muslim di usianya yang baru berumur 20 tahunan.

Sejak saat itu, ia mulai mendalami Islam  dengan para pemuka agama di Eropa. Namanya berganti menjadi Jadullah Al Qur’ani

Ia menjadi dai  selama bertahun-tahun dan mengabdikan dirinya untuk berdakwah.

Dalam kotak pemberian pak Ibrahim, ada sebuah pesan berharga yang dilampirkannya  kepada Jad.

Isi pesan tersebut dikutip dari ayat Al Qur’an.

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. Yusuf: 108)

Hingga pada suatu ketika, ia memutuskan pergi ke benua Afrika.

Disana ia berjuang, berdakwah meninggikan kalimat Allah dengan mengajak orang kepada Islam

Al hasil pengorbanannya berbuah manis, berbondong-bondong masyarakat afrika memeluk Islam, semakin hari jumlahnya terus bertambah, entah berapa ribu, ratus ribu, sangat banyak.

Pada tahun 2003, Jadullah Al Qur’ani wafat, dan dua tahun setelahnya, ibunya memeluk Islam, alasannya,  ia melihat anaknya begitu bersabar dalam dakwah dan bersungguh-sungguh dalam beragama. Kefantikannya kepada Yahudi akhirnya luntur dengan anaknya Jadullah Al Qur’ani

Setelah beberapa waktu, dalam sebuah konferensi keagamaan di London ketika membahas konflik Darfur Sudan, Dr. Sofwat Al Hijaji, seorang dai terkemuka, ia duduk berdampingan dengan delegasi dari Afrika

Sang Doktor kemudian bertanya kepada perihal Jadullah Al Qur’ani.

Begitu terkejutnya pemuka agama dari Afrika tersebut mendengar pertanyaan sang Doktor.

Darimana kamu tahu Jadullah Al Qur’ani, begitu tanyanya dengan nada heran.

Sang Doktor pun menimpalinya;

Aku bertemu dengannya dan menyalami sebelum ia wafat di salah satu rumah sakit di Swiss.

Utusan dari Afrika langsung mengambil tangan sang Doktor dan menciumnya.

Ia pun bertanya, kenapa anda lakukan itu?

Karena kamu telah berbuat baik kepada Jadullah Al Qur’ani dengan mengunjunginya, baginya inilah adalah penghormatan kepada orang yang berjasa atas Islamnya masyarakat Afrika

Kemudian sang Doktor bertanya kepada pemuka agama Afrika.

Apakah anda memeluk Islam karena perantara Jadullah Al Qur’ani?

Tidak, namun karena seorang Doktor yang memeluk Islam melalui Jadullah Al Qur’ani

Inilah kisah para pejuang, tulus, penuh lika liku, berusaha sesiang penuh dan berdoa semalam suntuk.

Siapa perantara yang menggiring Jad kepada Islam?

Siapa perantara yang menggiring banyak orang di Afrika memeluk Islam?

Siapa perantara yang membuat ribuan, pulahan ribu, bahkan lebih, masyarakat Eropa memeluk Islam?

Tahukah anda siapa?

Dialah seorang yang berakhlak mulia, seorang yang sudah tua yaitu pak Ibrahim, pemilik toko di sebuah apartemen yang ada di Perancis.

Akhlaknya menjadikan banyak orang mengenal Islam sebagai rahmat bagi semesta alam.

Inilah sejatinya dakwah, ia merupakan sebaik-baik pekerjaan, namun harus dibungkus dengan cara yang baik dan penuh dengan makna.

Di terjemahkan secara bebas dari video berikut: KLIK DISINI

Bagaimana dengan saya, anda dan kita semua!

Sudahkah “kita” mengajak kerabat dan handai taulan mengenal Islam lebih dekat dengan cara yang bijak?

Atau “kita” hanya pandai mendebati orang-orang yang mengajak kepada kebenaran Islam?

Semoga kisah pak Ibrahim dan Jadullah Al Qur’ani bisa memecahkan karang yang ada dalam hati kita. Semoga

————–

Penerjemah: Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc M.A

Pengasuh Halaman Komunitas ISCO (Islamic Studies Center Online)

Pembelajar sepenggal masa, belajar menuangkan setetes pemikiran menjadi tulisan ringan, berharap makna bagi sesama. Pengasuh situs lulusan Ponpes Modern Darunnajah Bogor, S1 Univ. Al Azhar Kairo Republik Arab Mesir Fakultas Ushuluddin Jurusan Hadist dan Ilmu-ilmunya, S2 Univ. Cidi Mohammed ben Abdellah Kota Fez Kerajaan Maroko bidang Kaidah Fiqih dan sedang menyelesaikan pendidikan S3 ilmu tafsir di PTIQ Jakarta.

Leave A Reply

linked in share button