73 views

Manusia Pujaan Penduduk Langit

0

 

Dalam catatan sejarah, orang-orang yang dianggap kelas bawah biasanya kurang dipandang masyarakatnya, namun ternyata doa-doa mereka langsung menembus langit. Hal ini akan terus berlangsung sampai akhir zaman.

Tengoklah Ali menantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang hidupnya penuh dengan kesederhanaan dan kejujuran, hidupnya yang tidak kaya raya tidak serta merta menjadikannya dibudaki oleh dunia.

Begitu sederhananya Ali sampai-sampai aqiqah anaknya pun ditanggung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyembelihkan untuk Hasan dan Husain masing-masing satu ekor kambing kibas. (HR. Bukhari)

Juga pernah pada suatu ketika Fatimah menahan lapar karena tiada makanan. Apakah hidup mereka menjadi tidak harmonis lantaran ekonomi yang kurang mengizinkan?

Jawabannya tentu tidak, bahkan rumah tangga mereka tetap utuh dan Ali mendapat kabar gembira dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai calon penghuni surga karena ketakwaannya. Adapun Fatimah adalah tauladan bagi para ummahat di dunia maupun akhirat.

Tengoklah pula Uwais al Qarni asal Yaman, seorang yang dihinakan, menjadi bahan olokan di kampungnya, dia adalah generasi emas tabi’in, mendapat banyak pujian dari para penghuni langit, padahal kita tahu di era tabi’in ada seorang Sa’id bin Musayyab, seorang yang banyak meriwayatkan hadist dan juga ada Hasan al Bashri, seorang ulama terkenal nan shalih yang begitu banyak murid-muridnya.

Akan tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan bahwa sebaik-baik generasi dari kalangan tabi’in adalah Uwais al Qarni, lalu apa keistimewaannya padahal dia sering di olok-olok karena miskin, mempunyai penyakit yang dalam bahasa Al-Quran disebut dengan baros atau alvino atau jika merujuk ke terjemahan adalah penyakit kusta.

Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang duduk di antara para sahabatnya; antara lain Abu Hurairah, Umar, Ali dan lainnya. Beliau bersabda:

“Sesungguhnya sebaik-baik generasi tabi’in adalah orang yang bernama Uwais. dia mempunyai seorang ibu dan mempunyai belang putih di tubuhnya. Lalu dia berdoa hingga Allah menghilangkan belang itu kecuali hanya tersisa sebentuk dirham.”(HR. Muslim dan Ahmad)

Uwais berdoa untuk kesembuhan penyakitnya dengan meminta untuk menyisakan sedikit saja ditubuhnya agar senantiasa bersyukur dan selalu mengingat Allah Ta’ala dan Allah mengabulkan doanya.

Umar yang mengetahui keutamaan Uwais pun senantiasa meminta doa tatkala ditakdirkan bertemu seraya bertutur kepadanya

“Mintakanlah ampunan untukku, wahai Uwais!”.

Dan di saat masyarakat tahu tentang keutamaan Uwais, berbondong-bondong mereka mendatanginya akan tetapi Uwais memilih untuk meninggalkan kampungnya karena takut dikultuskan dan hal ini adalah kebiasaan orang-orang shalih, mereka malu bahkan menjadi merah wajahnya saat amal shalih mereka diketahui banyak orang.

Duhai saudaraku….

Janganlah kita merasa suci dan menganggap hina orang-orang kelas bawah, orang pelosok nan ndeso, orang-orang yang ekonominya lemah, mempunyai penyakit, pekerjaan rendahan sebagai pesuruh, serabutan, pedagang keliling, petani, nelayan, dan semisalnya.

Bisa jadi mereka memang bukanlah orang yang dikenal di dunia akan tetapi menjadi bahan pembicaraan penduduk langit karena ketakwaannya, hati mereka bersih serta tulus menjalani kehidupan dengan senantiasa bersabar dan bersyukur
————–

Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc M.A

Pengasuh Halaman Komunitas ISCO (Islamic Studies Center Online)

 

Pembelajar sepenggal masa, belajar menuangkan setetes pemikiran menjadi tulisan ringan, berharap makna bagi sesama. Pengasuh situs lulusan Ponpes Modern Darunnajah Bogor, S1 Univ. Al Azhar Kairo Republik Arab Mesir Fakultas Ushuluddin Jurusan Hadist dan Ilmu-ilmunya, S2 Univ. Cidi Mohammed ben Abdellah Kota Fez Kerajaan Maroko bidang Kaidah Fiqih dan sedang menyelesaikan pendidikan S3 ilmu tafsir di PTIQ Jakarta.

Leave A Reply

linked in share button