79 views

Mengenal Nabi Terakhir dari Bani Israil

0

 

Firman Allah Ta’ala;

(Ingatlah), ketika malaikat berkata: “Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat[[1]] (yang datang) daripada-Nya, namanya Al masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), (QS. Ali ‘Imran: 45)

“Dikatakan” Al Masih, karena sering Nabi Isa mengukur tanah dengan bepergian ke berbagai daerah di negerinya, hal ini dilakukan guna menghindari intimidasi dan propaganda kaum Yahudi atas diriya dan ibunya Maryam binti Imran ‘alaihima assalam. Pendapat lain “menyatakan” karena kedua kakinya bersih dan suci.[2]

Berbeda dengan Dajjal yang juga disebut Al Masih, kata Al Masih sebenarnya berasal dari bahasa Arab, al mashu (المسح), ia bisa berarti menyapu, membasuh, membersihkan atau menghapus. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala.

وَامْسَحُواْ بِرُؤُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَينِ

            “Dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki,” (QS. Al Maa-idah: 6)

FirmanNya dalam ayat yang sama, فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ ُ, “Maka sapulah mukamu dan tanganmu.”

Maksud Al Masih yang disematkan kepada Dajjal tiada lain karena ia sumber kerusakan di akhir zaman, diantaranya ia akan menghapus segala kebaikan, mengganti dengan keburukan, mengaku tuhan dan menguasai dunia. Hanya kota suci Mekah dan Madinah yang terbebas dari jajahannya karena ia dijaga para malaikat serta pada waktu itu hanya Nabi Isa yang mampu menaklukannya.

Begitu dahsyatnya fitnah Dajjal hingga para Nabi jauh sebelum masa Nabi Muhammad, mereka sudah memperingatkan umatnya dengan bahaya Dajjal dan sebagai tanda akhir zaman. Seorang muslim hendaknya memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari bahaya Dajjal.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah senantiasa bermunajat.

اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ , وَمن عَذَابِ النَّارِ , وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ , وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

            “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari siksa kubur, siksa neraka (Jahanam), fitnah kehidupan dan (setelah) mati, serta dari kejahatan fitnah Al Masih Dajjal.”

Nabi Isa dilahirkan tanggal satu sebelum masehi di kawasan Bethlehm (بيت لحم) Palestina berdekatan dengan Baitul Maqdis, tempat kelahirannya kemudian dibangun kaisar Konstantin beberapa abad setelahnya. Kini tempat tersebut menjadi situs bersejarah sekaligus kota suci bagi umat kristiani.

Di zaman Nabi Isa, hegemoni Romawi mendominasi dunia termasuk kawasan Syam yang meliputi Palestina. Kebiasaan para penguasa terdahulu menganut ajaran paganisme atau penyembah syetan termasuk imperial Romawi dan para raja pada umumnya, selain itu mereka juga sewenang-wenang terhadap rakyatnya jika tak sejalan.

Sejarah penanggalan masehi merupakan ketetapan yang berlaku di era Romawi kedua, karena Romawi pertama menurut para sejarawan ialah peradaban Yunani itu sendiri yang berasal dari Rumi, bin Lubthi bin Yunan bin Yafist bin Nuh[3] bin lamiq bin Mutwasyalakh bin Khanukh (Idris) bin Yarid bin Mahlayil bin Qanin bin Anwasy bin Syist bin Adam.[4]

“Konon” penamaan bulan-bulan dalam masehi merupakan nama-nama dewa atau nama sesembahan penguasa Romawi. Hanya sedikit diantara manusia di zaman tersebut yang beriman dan inilah fakta bahwa kebanyakan manusia menyembah hawa nafsunya.

Jika kita perhatikan, penyebutan penanggalan masehi erat hubungannya dengan Al Masih Isa putera Maryam. Karenanya identitas sangat penting bagi seorang muslim, hal ini yang membedakan dengan Ahli Kitab dalam menyambut tahun baru. Masehi merupakan tahunnya para penguasa Romawi yang menjadi penganut Nashrani di sekitar abad ke-3 M pada masa raja Kostantin bin Kisthas yang mendirikan kota konstantinopel (Istanbul).[5]

Tidak patut bagi seorang muslim turut merayakan kemeriahan tahun baru Masehi dengan ikut berpartisipasi pesta kembang api, meniup terompet, melewati malamnya dengan begadang dan hal-hal yang tidak bermanfaat. Ketahuilah bahwa ciri muslim yang baik ialah meninggalkan perbuatan yang sia-sia.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,

Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi)

Para pengikut Nabi Isa, mereka disebut Nashara (النصارى), bermakna penolong, istilah ini identik hingga kini, ia dinisbatkan kepada nama sebuah desa di Palestina bernama Nazaret yang dalam bahasa Arab disebut dengan Nasiroh (الناصرة), kaum Nashara atau Nasrhani biasa disebut juga dengan umat Kristiani.

Dalam perjalanan hidup Nabi Isa, ia banyak memiliki karunia, diberi kenabian beserta mukjizat. Kelebihan ini yang membuat kalangan Yahudi mendengki, begitu juga para penguasa Romawi, mereka takut eksistensinya tergeser pengaruh Isa yang menyeru untuk menyembah Allah semata dengan segala keutamaan yang dimilikinya.

Jika kita cermati, kedengkian para elit sangat wajar, ketika pengaruh superior mulai terusik dengan pendatang baru, biasanya mereka tidak senang, maka apapun cara akan dihalalkan guna menjatuhkan lawan, bahkan memusnahkannya.

Belajar dari kisah Fir’aun di era Nabi Musa, ia begitu takut kekuasaannya diambil alih Bani Israil, menimbang kuantitas dan pengaruh mereka yang semakin kuat di negeri Mesir sepeninggalan Nabi Yusuf. Alhasil Fir’aun melakukan genoside terhadap mereka. Alasannya hanya satu yaitu kawatir eksistensi mereka sebagai warga pribumi terusik oleh para pendatang, tak hanya itu merekapun ditindas dan dijadikan budak secara turun temurun.

Kisah lain tentang terusirnya Iblis dari Surga, bukan semata-mata karena ia diciptakan dari Api, sedangkan Adam dari tanah, namun ada faktor mendasar lain yaitu eksistensi Iblis sebagai calon penguasa bangsa jin di muka bumi akan sirna jika ia bersujud kepada manusia yang dihadirkan Allah Ta’ala sebagai khalifah. Dari sini sebagian kalangan berpendapat bahwa Iblis berasal dari bangsa Jin yang durhaka, sebagian lain berpandangan bahwa ia bagian dari malaikat.

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam[[6]], maka sujudlah mereka kecuali iblis. dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.” (QS. Al Kahfi: 50)

Besarnya fitnah yang menimpa Isa di waktu kecil, membuat Maryam begitu kawatir hingga akhirnya ia memutuskan untuk membawanya ke negeri Mesir dan menetap di sana sampai ia berusia sekitar dua belas tahun.[7]

Maka tak heran jika kita dapati para penganut Kristen Koptik di Mesir dan kawasan sekitarnya, mereka begitu bangga dengan ajaran koptiknya, mereka meyakini ajaran yang dianutnya masih murni sebagaimana yang dibawa Nabi Isa dan Ibunya tatkala melarikan diri dari kejaran tentara Rowami.

Hari besar mereka bukan di bulan desember, namun di awal bulan dalam penanggalan masehi, para pemuka agamanya rata-rata berjenggot, berpakaian serba hitam, memakai penutup kepala berbentuk lingkaran besar, jauh berbeda dengan para pastur maupun pendeta dan para pemuka agama di Vatikan, bangunan gereja pun berbeda dengan gereja pada umumnya, karena ia memiliki kubah besar seperti Hagia Shopia di Istanbul Turki.

Lebih dari itu, rata-rata penganutnya memiliki tato berwarna hijau yang berbentuk salib di pergelangan tangan mereka, sebagian perempuannya juga memakai penutup kepala sehingga bagi orang awam, mereka akan mereka bahwa ia seorang muslimah, padahal ia adalah penganut Kristen Koptik yang taat.

Adapun diantara keajaiban Nabi Isa, hal itu sudah dimulai sejak ia berada dalam buaian ibunya, ia bisa berbicara sejak bayi, mengetahui hal-hal rahasia, menghidupkan orang yang sudah mati, menyembuhkan penyakit buta bawaan sejak lahir, tuli, gila dan keajaiban lain yang berhubungan dengan dunia medis.

Keajaiban para Nabi biasanya disesuaikan kondisi zaman dan terjadi karena izin Allah Ta’ala semata. di zaman Nabi Isa dunia pengobatan menjadi perbincangan khalayak, maka tak heran ia menjadi ahli pengobatan.

Sama halnya di era Nabi Musa, para penyihir dianggap pekerjaan mulia dan dielu-elukan, maka tak heran kelebihannya dibuat untuk menaklukkan tukang sihir dengan tongkatnya. Begitu juga di era Nabi Muhammad, banyak orang mendewakan sastra, maka mukjizatnya berupa kehadiran Al Qur’an, tiada kata maupun sastrawan yang bisa membuat lirik sebagus Al Qur’an.

Ishak bin Basyar menuturkan, Ustman bin Saj dan lainnya memberitahu kami, dari Musa bin Wardan, dari Abu Nadhrah, dari Abu Sa’id, dari Makhul, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia bercerita:

“Sesungguhnya Isa putera Maryam adalah orang yang pertama kali diberi kemampuan oleh Allah untuk berbicara pada waktu masih bayi.”[8]

Dalam pandangan umat Islam, Nabi Isa merupakan utusan Tuhan, hal ini turut diakui kalangan Yahudi dan Nashrani, ia merupakan Nabi terakhir dari kalangan Bani Israil, karena penutup para Nabi berasal dari bangsa Arab yaitu Nabi Muhammad dan masa diantara keduanya tidaklah ada seorang Nabi, zaman ini disebut masa fatrah atau masa vakum.

Kedengkian kaum Yahudi kepada Nabi Isa semakin bertambah, mereka pun menghasud penguasa Romawi yang berpusat di Damaskus. Sudah menjadi tabiat bahwa orang-orang Yahudi senang berbuat kerusakan, menolak kebenaran, menawan utusan Tuhan, serta membunuhnya secara keji.

Kehadiran Isa tanpa seorang ayah, dimanfaatkan kalangan Yahudi seraya menuduh Maryam telah berbuat kejelekan dan menyebarkan berita keji kepada publik, padahal Maryam diketahui banyak orang sebagai seorang pengabdi di Baitul Maqdis dan begitu taat pada Allah Ta’ala.

            “Dan (Kami hukum orang-orang Yahudi) karena kekafiran mereka (terhadap Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina),” (QS. An Nisaa: 156)

Diantara hukuman Allah Ta’ala terhadap mereka yaitu mengunci hatinya dari menerima kebenaran disebabkan kekafiran, kedurhakaan, suka berbuat kerusakan serta kesombongan yang menghiasi hati mereka, hanya sedikit yang beriman dari kalangan Yahudi.

Dikisahkan Nabi Isa mendapat kepungan dari tentara Rowami yang hendak menangkap, menyalib dan membunuhnya. Ia bersama beberapa orang di dalam rumah dekat Baitul Maqdis, dari sinil awal sejarah apa ia benar-benar disalib, kemudian dibunuh sebagaimana yang diklaim kalangan Yahudi dan kristiani.

Al Qur’an dengan tegas membantah dan menjawab segala keraguan yang menyatakan bahwa Isa telah disalib, dijelaskan dalam beberapa ayat bahwa Isa bukanlah yang disalib sebagaimana persangkaan orang-orang Yahudi dan Nashrani, melainkan ia diangkat ke langit dengan izin Allah Ta’ala.

“Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An Nisaa: 158)

————-

[1]. Maksudnya: Membenarkan kedatangan seorang Nabi yang diciptakan dengan kalimat kun (jadilah) tanpa bapak yaitu Nabi Isa

[2]. Lihat di Qashash al Anbiya. Hal. 502.

[3]. Ibid. Hal. 69.

[4]. Ibid. Hal. 50.

[5]. Ibid. Hal. 502.

[6]. Sujud di sini berarti menghormati dan memuliakan Adam, bukanlah berarti sujud memperhambakan diri, karena sujud memperhambakan diri itu hanyalah semata-mata kepada Allah.

[7]. Lihat Qashash al Anbiya. Hal 474.

[8]. Lihat di Qashash al Anbiya. Hal. 475.

————–

Oleh: Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc M.A

Pengasuh Halaman Komunitas ISCO (Islamic Studies Center Online)

 

Pembelajar sepenggal masa, belajar menuangkan setetes pemikiran menjadi tulisan ringan, berharap makna bagi sesama. Pengasuh situs lulusan Ponpes Modern Darunnajah Bogor, S1 Univ. Al Azhar Kairo Republik Arab Mesir Fakultas Ushuluddin Jurusan Hadist dan Ilmu-ilmunya, S2 Univ. Cidi Mohammed ben Abdellah Kota Fez Kerajaan Maroko bidang Kaidah Fiqih dan sedang menyelesaikan pendidikan S3 ilmu tafsir di PTIQ Jakarta.

Leave A Reply

linked in share button