64 views

Pentingnya Menjaga “NKRI” (Bag. 1)

0

Dalam ideologi ajaran yang lurus ini, Allah Ta’ala senantiasa menjadikan syariat sebagai sebuah solusi dan pesan kepada hamba-hambanya yang terbingkai  indah pada salah satu  disiplin ilmuNya yaitu  “Maqosid syariah”, bahwa ibadah itu dibagi menjadi 2:

  1. غير معلل(Ghoiru mu’allal)

Artinya tiada yang mengetahui sebab dijadikannya sebuah syariat kecuali Allah dan bersifat semata-mata karena bentuk dari tunduk ruduk kita sebagai hamba yang fakir kepada-Nya dalam beribadah, contoh :

  • Shalat

Zuhur, Ashar, Isya  yang bilangannya harus 4 Raka’at, subuh 2 raka’at dan Maghrib 3 raka’at dengan waktu yang sudah di tetapkan.

  • Puasa

Menahan atas sesuatu dari hal-hal yang membatalkannya dengan waktu yang sudah diatur mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari dengan syarat dan niat tertentu.

  • Haji dan umroh

Thawaf mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 putaran yang di mulai dari sebelah kanan dan juga wuquf di ‘’Arafah’’ setiap tanggal 9 Zulhijah dengan tempat yang sudah di tentukan batasan-batasan padang arafahnya.

  • Zakat :

Takaran beras (makanan pokok) yang sudah di tentukan yaitu 1 shaa atau 4 amdad, 1 mad nya adalah 4 kali cakupan penuh dua telapak tangan ukuran normal yang digabungkan atau sekitar 2,5 kg beras.

Adapun zakat pada emas dan perak yang jika memenuhi nishab (batas minimal yaitu 85 gr untuk emas dan 595 gr untuk perak) dan telah mencapai haul atau masa 1 tahun hijriyah, zakatnya sebesar 2,5 %.

Tinggal di hitung saja berapa rupiah 1 gram emas dan peraknya, lalu di kalikan 85 gr emas atau 595 gr perak dan setelah itu dibagi 2,5 %.  Dengan sarat yaitu sampai haul dan nishab (emas dan perak murni 24 karat).

pernahkah kita terpikir dan bertanya dalam hati akan  jumlah rakaat di atas yang  harus 4, 3 dan 2  (ada apa dengan bilangan itu???), juga ketentuan waktu dalam puasa (kenapa puasanya tidak di malam hari???),  kenapa  juga harus berputar 7 putaran (tidak kurang dan lebih) dan di mulai dari kanan, serta wukuf di arafah (kenapa tidak di tempat lain??), dan takaran serta ketetapan pada zakat (lalu bagaimana dengan kiloan dan persenan yang sudah diterapkan???)

Jawabannya adalah karena Rasulullah dan para sahabatnya melakukan dan mencontohkannya sebagai wujud dari ketaatan murni kepada Allah, lalu adakah yang tahu kenapa mereka melakukan ritual ibadah yang bilangan dan teorinya sudah dipatenkan??? Adakah yang tahu???

Adakah Rasulullah dan para sahabatnya menjelaskan secara detail akan hal-hal yang mereka lakukan??? (Inilah yang dimaksud  dengan ibadah Ghoiru mu’allal dan masih banyak lagi contoh ibadah lainnya).

  1.  معلل(Mu’allal)

    Artinya tatkala diperintahkannya suatu ibadah tertentu karena adanya alasan logis dan kita jualah yang merasakan manfaatnya, contoh:

  • حفظ الدين/ Hifdzu ad diin (Proteksi pada Agama)

Berjuang di Jalan Allah, mengajak kepada yang ma’ruf dan menolak kemungkaran merupakan bagian dari proteksi pada agama, alasannya diperintahkan ibadah tersebut jelas agar Agama ini tetap terjaga kesakralannya.

  • حفظ النفس/ Hifdzu an nafs (Proteksi pada jiwa/diri)

Makan dan minum yang halal lagi baik, tidak merusak lingkungan dan juga tidak merugikan diri sendiri seperti merokok, sering begadang tanpa tujuan, pola hidup tidak teratur dan pergaulan bebas ala hedonis.

Alasannya jelas makan dan minum untuk bertahan hidup sehingga diri ini tetap terjaga sedangkan merokok, begadang tanpa tujuan jelas dapat mengganggu kesehatan hingga bisa menyebabkan kematian adapun pergaulan bebas bisa menjerumuskan diri kepada banyak penyakit.

  • حفظ النسل/ Hifdzu an nasal (menjaga regenerasi)

Menikah, tujuannya jelas bukan hanya bentuk cinta, tapi juga untuk menjaga keturunan agar tetap utuh, adapun tradisi bangsa Arab mereka menikahkan putra putrinya untuk memperkuat jaringan yang sebelumnya pernah dibangun sehingga semakin kental persaudaraan di antara kedua belah pihak.

Adapun konteks kekinian di tanah air bisa kita temukan pada dunia pendidikan, politik, relasi bisnis dan lain-lain, contoh: pernikahan antara dua keluarga pendiri pesantren atau yayasan, antara para kader politik praktis maupun simpatisan juga pada relasi bisnis, tujuannya tiada lain yaitu mengokohkan visi dan misi yang sama.

  • حفظ المال/ Hifdzu al mal (Proteksi pada Materi)

Jual beli atau perniagaan yang bebas dari riba, alasannya jelas yaitu agar roda kehidupan tetap berputar dan mengokohkan pondasi ekonomi mulai dari unit terkecil (keluarga) hingga Negara.

  • حفظ العقل/ Hifdzu al aql (Proteksi akal dan pikiran)

Haus akan kajian seperti membaca artikel artikel ringan maupun berat di pelbagai kajian media online berbasis komunitas, tidak meminum yang memabukan, menjauhi Narkoba, membaca Qur’an dan lain lain.

Alasannya jelas yaitu menjaga akal dan pikiran agar tetap sehat serta memberikan nutrisi pada otak khususnya bagian kanan sehingga memberikan pengaruh positif pada pola hidup seorang muslim dalam kesehariannya.

Penjelasan singkat di atas merupakan bagian dari materi maqosid syariah yang merupakan cabang dari Ilmu Usul Fiqih dan telah menjadi ilmu mandiri dalam kaidah serta metode-metode yang sangat di rekomendasikan untuk dipelajari para penuntut ilmu.

Bersambung ke bagian 2…

————–

Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc M.A

Pengasuh Halaman Komunitas ISCO (Islamic Studies Center Online)

Pembelajar sepenggal masa, belajar menuangkan setetes pemikiran menjadi tulisan ringan, berharap makna bagi sesama. Pengasuh situs lulusan Ponpes Modern Darunnajah Bogor, S1 Univ. Al Azhar Kairo Republik Arab Mesir Fakultas Ushuluddin Jurusan Hadist dan Ilmu-ilmunya, S2 Univ. Cidi Mohammed ben Abdellah Kota Fez Kerajaan Maroko bidang Kaidah Fiqih dan sedang menyelesaikan pendidikan S3 ilmu tafsir di PTIQ Jakarta.

Leave A Reply

linked in share button