70 views

Pentingnya Menjaga “NKRI” (Bag. Akhir)

0

3. “R” Rasional

Di Masa Rasulullah pernah ada sebuah kisah dan inilah salah satu bentuk maqosid syariah di zaman nabi hanya saja baru sebatas kasus yang belum dijadikan ilmu yang independen atau diktat-diktat kampus kecuali setelah wafatnya Rasulullah dalam waktu beberapa kurun pada sekitar abad ke-4 Hijriyah.

Sama halnya penggunaan bahasa Arab yang begitu rapih dan terjaga oleh Rasulullah dan para sahabatnya pada pola literatur mereka dan ketika itu belum ada ilmu nahwu dan Shorof seperti di zaman sekarang dan masih banyak lagi kecanggihan teori maupun praktek di zaman rasul sebagai ciri dari Masyarakat madani ‘’Civil society”.(Wajar saja mereka bisa mencerna Al Quran dengan baik karena kefasihannya berbahasa arab ditambah akal sehat dan hati nurani yang senantiasa  berfungsi sebagai driver mereka sehingga banyak Al-Quran berjalan di muka bumi kala itu). Masya Allah….

Dikisahkan ada seseorang yang sedang melakukan perjalanan jauh dengan menggunakan unta, lalu diikatlah tunggangannya oleh sang musafir di salah satu penyangga sambil pergi untuk menunaikan shalat.

Di tengah shalat unta itu lepas dan secara langsung sang musafir membatalkan shalat sambil mengejar untanya yang lepas dari ikatan, berkatalah rekannya setelah itu “kenapa kamu meninggalkan shalat dan lebih mengutamakan untuk mengejar untamu, “saya hanya mengikuti metode Rasulullah yang tidak suka menyulitkan diri dan senang terhadap kemudahan” begitu jawab sang musafir. [1]

Inilah yang di maksud dengan Maqosid Syariah, di satu sisi dia telah membatalkan shalatnya hanya karena mengejar untanya, di sisi lain dia berpikir cerdas karena dengan mendapat untanya kembali dia bisa melanjutkan perjalanan yang masih jauh. Otomatis pesan-pesan maqosid pun terjaga di antaranya:

  1. Menjaga akal dan pikiran (Tidak menjadi bebannya)
  2. Menjaga materi (Tidak kehilangan Tunggangannya)
  3. Menjaga agama (bisa meneruskan shalatnya setelah mendapat unta)
  4. Dan yang terpenting menjaga jiwa dan dirinya (terbebas dari keterlantaran di tengah jalan).

الدِّينُ يُسْرٌ أَحَبُّ الدِّينِ إِلَى اللهِ الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ.

Artinya: “Agama itu mudah; agama yang disenangi Allah yang benar lagi mudah.” [2]

يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا

Artinya: “Mudahkanlah dan jangan mempersukar …” [3]

  وما جعل عليكم في الدين من حرج

“…dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan…” (QS: Al Hajj ayat 78 juz 17).

Di tambahkan dari surat At Taghaabun ayat 16 juz 28:

فاتقوا الله ما استطعنم

Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu…

Kemudahan demi kemudahan dalam ajaran Islam jelas sangat di anjurkan, pilihlah yang termudah dari yang mudah, karena Rasulullah pun senang melakukannya dengan satu sarat yaitu kemudahan tersebut bukan pada hal yang berbau maksiat yang jelas menimbulkan dosa, contoh :

a. Shalatnya musafir, ada 2 ospi kemudahan yang ditawarkan oleh Islam kepada kita disaat bepergian jauh, opsi pertama kita bisa menggabungkan shalat (Zuhur dan Ashar tetap 4 rakaat “4 & 4” dalam waktu bersamaan).

opsi kedua menggabung dan meringkasnya (Zuhur dan Ashar diringkas menjadi 2 rakaat “2 & 2” dalam waktu bersamaan). Opsi manakah yang anda pilih ??? (silahkan pilih yang termudah)

b. Disaat kesulitan mengakses ilmu agama via belajar langsung ke timur tengah atau perguruan tinggi terkenal dibidangnya, kita tidak perlu kawatir karena ada opsi lain yang bisa menjadikan kita mengerti akan ilmu agama secara utuh.

yaitu dengan mendatangi majelis-majelis ilmu yang dihiasi ustadz atau ustadzah yang keilmuannya tidak diragukan dan fakar di bidangnya, banyaklah bertanya kepada mereka dengan demikian kita tidak perlu jauh-jauh pergi ke timur tengah bahkan repot-repot melahap dan menghatamkan banyak kitab klasik maupun kontemporer.

4. “I”  Intelektualitas dan Integritas

ولا تقف ما ليس لك به علم إن السمع والبصر والفؤاد كل أولئك كان عنه مسئولا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS: Al Israa’ ayat 36 juz 15)

Inilah pesan Ilahi yang sesungguhnya, penting bagi setiap personal memahami makna “I” di atas, karena dengan pijakan keilmuan yang mendasar akan menjaganya dari kecerobohan intelektual.

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…” (QS: Al Maa’idah ayat 2 juz 6)

Akhirnya ini bisa menjadi saat yang menentukan “Turning point” dalam totalitas Suatu keadaan yang mempunyai pengaruh besar (Great influence) jika kita berjalan di atas garis pasir pantai yang sama dengan segala kemampuan dan potensi yang di miliki karena rasa cinta kepada tanah air tanpa mengurangi elektabilitas suatu kesatuan yang utuh dan buahnya adalah terpancarnya kewibawaan dan kejujuran pada ibu pertiwi tercinta. Semoga…

Catatan ringan ini merupakan intisari dari obrolan santai sore hari bersama sahabat saya dari Mauritania (negeri dengan segudang penyair dan penghafal Qur’an) di sebuah kafe sederhana di sudut kota Fes-Maroko beberapa tahun lalu.

————–

Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc M.A

Pengasuh Halaman Komunitas ISCO (Islamic Studies Center Online)

———–

Catatan kaki:

   [1] Dipetik dari karya Muhammad At Tohir bin ‘Aasyuur (Maqosid syariah)

[2] HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah RA.

[3] HR. al-Bukhari dari Anas ibn Malik RA.

 

Pembelajar sepenggal masa, belajar menuangkan setetes pemikiran menjadi tulisan ringan, berharap makna bagi sesama. Pengasuh situs lulusan Ponpes Modern Darunnajah Bogor, S1 Univ. Al Azhar Kairo Republik Arab Mesir Fakultas Ushuluddin Jurusan Hadist dan Ilmu-ilmunya, S2 Univ. Cidi Mohammed ben Abdellah Kota Fez Kerajaan Maroko bidang Kaidah Fiqih dan sedang menyelesaikan pendidikan S3 ilmu tafsir di PTIQ Jakarta.

Leave A Reply

linked in share button