51 views

Perempuan Keluar Rumah, Mau Cari Apa?!

0

Banyak perempuan zaman sekarang memilih berada di luar rumah, alasannya beragam, ada yang karena terpaksa, keadaan atau kebutuhan, bekerja dan ada yang sebaliknya mereka memang senang berada di luar rumah.

Al Qur’an mengajarkan kepada para perempuan untuk senantiasa tetap berada di dalam rumahnya kecuali ada alasan atau keperluan mendesak yang diperbolehkan oleh syariat dan mendapat izin keluarga atau suami bagi yang sudah menikah dengan memperhatikan batasan-batasan seperti:

  1. Tidak keluar sendirian apalagi suka pulang larut malam
  2. Kalaupun keluar sendiri senantiasa pandai melihat kondisi yang tidak membahayakan dirinya
  3. Berpakaian rapi dan sopan (menutup aurat).
  4. Tidak memamerkan perhiasan, tidak pula menghentakkan kaki ketika berjalan agar diketahui perhiasannya
  5. Tidak memakai wangi-wangian secara berlebihan, secukupnya saja atau tidak sama sekali itu lebih aman dan lebih utama. Adapun ketika bersama mahram (suami) di dalam rumahnya sangat dianjurkan
  6. Menundukkan pandangan terhadap lawan jenis
  7. Memperhatikan batasan pergaulan dengan lawan jenis dan menjaga prilaku
  8. Bertutur kata yang bijak/sopan guna menghindari fitnah dari lawan jenis
  9. Bersikap secara proporsional sehingga bisa menjauhkan dirinya dari tindakan yang kurang menyenangkan dari lawan jenis.
  10. Dan yang paling penting adalah berusaha menjaga kehormatan diri serta keluarganya.

Allah Ta’ala berfirman di dalam surat Al Ahzaab ayat 32-33.

  1. Maka janganlah kamu tunduk [ialah berbicara dengan sikap yang menimbulkan keberanian orang bertindak yang tidak baik terhadap mereka]dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya[Yang dimaksud dengan dalam hati mereka ada penyakit Ialah: orang yang mempunyai niat berbuat serong dengan perempuan, seperti melakukan zina] dan ucapkanlah Perkataan yang baik,
  2. dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.

Islam ajarannya senantiasa memuliakan kaum perempuan, mengajak kaum hawa untuk kembali ke fitrahnya dengan tetap berada di dalam rumahnya, kalaupun hendak keluar, ia harus memperhatikan batasan bagi dirinya, begitu utamanya seorang perempuan berada di dalam rumahnya, hingga melaksanakan shalat di rumahnya menjadi lebih utama bagi kaum hawa.

Dalam sebuah hadist dijelaskan perihal shalat di rumah bagi seorang perempuan itu lebih utama, padahal kita tahu bahwa shalat adalah ibadah penuh kemuliaan, apalagi jika dilakukannya secara berjamaah di masjid, namum bagi perempuan shalat di dalam rumahnya menjadi lebih utama.

Ibnu Umar radiyallahu ‘anhuma meriwayatkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لَا تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمْ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرُ لَهُنَّ

Janganlah kalian melarang kaum perempuan pergi ke masjid, akan tetapi shalat di rumah adalah lebih baik bagi mereka.” (HR. Abu Dawud)

 Seorang perempuan yang senantiasa tetap berada di dalam kerajaan kecilnya, maka Allah Ta’ala akan menjadi lebih dekat dengannya, hal ini senada dengan hadist nabi.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ، فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ، فَلا تَكُونُ مِنَ اللَّهِ أَقْرَبَ مِنْهَا فِي قَعْرِ بَيْتِهَا

Dari Abdullah radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Perempuan itu aurat, jika dia keluar rumah, maka setan menyambutnya (menghiasinya). dan sedekat-dekatnya seorang perempuan dengan Tuhannya yaitu tatkala dia di dalam rumahnya”

Jika kita perhatikan secara seksama banyak fenomena sosial yang sering kita lihat maupun dengar dan pemberitaan negatif yang menimpa kaum hawa khususnya mereka yang nekat melanglangbuana ke negeri sebrang, hal ini menunjukkan bahwa lebih banyak mudharat/efek negatif yang akan menimpa perempuan jika berada/bekerja di luar rumah apalagi di luar negeri dibandingkan dengan manfaatnya, antara lain :

  • Sering terjadinya kemungkaran, seperti ; bercampur dengan para lelaki, berkenalan, bebas bertatap muka dengan yang diharamkan, memakai wangi-wangian berlebihan, tidak jarang banyak yang memperlihatkan aurat kepada selain mahramnya, sehingga bisa menyeret pada kasus perselingkuhan dan perzinahan
  • Bebas mengobrol dengan lawan jenis disertai canda, tawa dan bersenang-senang dalam pembicaraan (boleh mengobrol saat seorang perempuan ada keperluan mendesak seperti transaksi dalam jual beli, sekedar bertanya tentang arah jalan, berbela sungkawa dan hal lain yang sifatnya mendesak dalam arti sekedarnya, maka hal ini diperbolehkan).
  • Kurang bisa melaksanakan kewajiban kepada suami dengan baik.
  • Keluar dari fitrahnya dengan mengenyampingkan urusan rumah tangga yang seharusnya menjadi bidangnya perempuan.
  • Mengurangi hak-hak anak dalam banyak hal, seperti dalam kasih sayang, perhatian, pendidikan agama dan lain sebagainya.
  • Membuatnya cepat lelah dan penat fisik serta pikiran sehingga bisa mempengaruhi jiwa serta syaraf yang tidak sesuai dengan tabiat perempuan.
  • Mengurangi makna hakiki tentang kepemimpinan suami dalam rumah tangga di hati perempuan.
  • Hasratnya tertuju pada pekerjaan, sedangkan jiwa, pikiran dan perasaannya menjadi sibuk, lupa dan bertambah jauh dari tugas-tugasnya yang alami, yaitu keharusan membina kehidupan suami isteri, mendidik anak-anak dan mengatur urusan rumah tangga.

Tabiat dan kepribadian kaum perempuan sejatinya memiliki kekhususan tersendiri sebagaimana dijelaskan oleh nabi dalam hadistnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam bersabda,

وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا

“Dan seorang perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari

Semoga bermanfaat.

————–

Oleh: Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc M.A

Pengasuh Halaman Komunitas ISCO (Islamic Studies Center Online)

 

Pembelajar sepenggal masa, belajar menuangkan setetes pemikiran menjadi tulisan ringan, berharap makna bagi sesama. Pengasuh situs lulusan Ponpes Modern Darunnajah Bogor, S1 Univ. Al Azhar Kairo Republik Arab Mesir Fakultas Ushuluddin Jurusan Hadist dan Ilmu-ilmunya, S2 Univ. Cidi Mohammed ben Abdellah Kota Fez Kerajaan Maroko bidang Kaidah Fiqih dan sedang menyelesaikan pendidikan S3 ilmu tafsir di PTIQ Jakarta.

Leave A Reply

linked in share button