78 views

Potret Dunia Formalitas

0

Duhai jiwa!

– Hidup hanya sementara, namun sebagian orang berpikir seakan lama, bahkan  kekal dan terus menumpuk harta sampai lupa derma

– Waktu berjalan cepat, namun sebagian orang berpikir lambat, bahkan terlalu banyak pertimbangan sampai larut dalam kebingungan

– Semakin hari, dunia semakin terlihat formal, normatif dan penuh kepura-puraan

– Roda Kehidupan layaknya ceremoni, kumpul sana kumpul sini, kadang tak bermakna

– Sebagian orang hidup dengan kenangan sejarah, bukan dengan mengulang kegemilangan

– Sebagian orang hidupnya tak merdeka, kendati berada dalam zona nyaman dan kehangatan

– Selalu mencari jaminan, padahal hidup sejatinya dikelilingi kesulitan, kesedihan, bahkan ketidakpastian

– Bayangkan, waktunya habis hanya dengan makan dan minum layaknya vampir, sibuk mengurus hajat pribadi sampai halal haram tak diperdulikan yang penting senang

– Sedikit kontribusi, bahkan tak ada sama sekali, itulah mayat hidup, hidup tapi hakikatnya mati

– Yang terpikir selalu “nanti bagaimana” bukan “bagaimana nanti”

– Yang terpikir selalu “nanti saya dapat apa” bukan “apa yang sudah saya sumbang”

– Yang terpikir selalu “bagaimana caranya” bukan “saya harus segera memulai”

 Duhai jiwa!

– Permasalan dahulu dan kini dan esok lusa hampir sama, sulit membedakan antara penikmat dan pejuang

– Seorang penikmat akan terlihat seperti pejuang di tengah kerumunan banyak orang

– Namun pejuang, ia tetap menawarkan masa depan kendati berjalan sendirian

– Ibarat orang dungu dan orang cerdas

– Orang dungu selalu haus dari mengenyangkan persepsi banyak orang.

– Adapun orang cerdas, ia merdeka dari selera banyak orang walau terlihat berjalan sendirian.

– Hidup itu sederhana, namun ‘kita’ yang sering menyulitkan

– Ramai orang mengejar kegemerlapan duniawi, laki-laki, perempuan tua maupun muda, semua terobsesi, hampir saja  gila.

– Bukan berarti kita tak butuh uang dan perhiasan duniawi, sekedar mengingatkan untuk terus menjadikan Allah Ta’ala sebagai tujuan utama hingga akhir hayat. Itu saja!

Duhai jiwa!

– Terkadang kita masih sering terbelenggu dengan jeratan bernuansa formal

– Bebaskanlah diri dari segala hal yang memberatkan beban di pundak

– Merdeka adalah bebas dari segala belenggu, seseorang belum merdeka kalau tidak bebas berpikirnya namun tetap dalam batasan norma dan rel-rel keagamaan.

– Hidup di alam bebas belum tentu merdeka, terkadang dalam jeruji besi dan keterbatasan manusia masih bisa bahagia

– Kebahagiaan sulit didapat, jika diri masih terikat dan tak bebas bergerak, kendati ia tak terpenjara

– Kita hampir saja lupa, kalau kematian semakin dekat, ia tak pernah berhenti melangkah atau rehat sejenak untuk mendatangi kita, bahkan berlari menghampiri.

– Lantas apa penyebab penyimpangan dan maraknya fenomena sosial?

 Duhai jiwa!

– Sebagian manusia  bahkan kebanyakannya terus hanyut dalam ketidakberdayaan mengikuti hawa nafsu dan obsesi duniawi nan fana

– Kebanggaan, status sosial, tumpukan materi dan pangkat kedudukan itulah dunia formalitas

– Karena Islam tak menilai seseorang dari yang nampak saja, seperti penampilan dan statusnya

– Namun melihat dari ketulusan hati dan shalehnya amal perbuatan

– Ibarat sebuah casing Hand Phone, yang terpenting adalah muatan dan keasliannya

– Lalu apa yang kita cari di dunia yang sudah mulai gersang nan usang ini, maka tanyakanlah pada hati nurani dan akal sehat.

– Maka cukuplah dengan firmanNya sebagai untaian nasehat;

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), (QS. Al Hadiid: 16)

 

————–

Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc M.A

Pengasuh Halaman Komunitas ISCO (Islamic Studies Center Online)

Pembelajar sepenggal masa, belajar menuangkan setetes pemikiran menjadi tulisan ringan, berharap makna bagi sesama. Pengasuh situs lulusan Ponpes Modern Darunnajah Bogor, S1 Univ. Al Azhar Kairo Republik Arab Mesir Fakultas Ushuluddin Jurusan Hadist dan Ilmu-ilmunya, S2 Univ. Cidi Mohammed ben Abdellah Kota Fez Kerajaan Maroko bidang Kaidah Fiqih dan sedang menyelesaikan pendidikan S3 ilmu tafsir di PTIQ Jakarta.

Leave A Reply

linked in share button