112 views

Rancu? Permudah Saja Tanpa Gaduh

0

Apapun buatan manusia, pastinya ada kelemahan, produk hukum misalnya. Adakalanya etika bisa juga disertakan menjadi dasar hukum walau tak tersurat dalam hukum positif kendati  fakta di lapangan harus tersurat, penggunaan kepatutan sebagai sumber hukum sebenarnya tidaklah bertentangan dengan ajaran Islam.

Belajar dari Umar bin Khatab ketika menjabat khalifah, cakupan wewenangnya jauh melebihi presiden, usah bandingkan dengan jaksa agung dan hakim pengadilan. Dalam suatu kesempatan Umar pernah mengambil kebijakan dengan tidak memotong tangan pencuri karena betapa sengsaranya para pelaku, apalagi sedang musim paceklik.

Kita ketahui hukum mencuri dalam Al Qur’an adalah potong tangan. Jikapun hendak diberlakukan, maka seyogyanya melihat kadar yang dicuri, pencuri makanan seharga lontong sayur tentu tak perlu dipotong, apalagi seharga tahu bulat, cukup diperingatkan.

Kasus kekinian, seorang nenek mencuri semangka, kemudian dihukum, lantas bagaimana kasus korupsi miliaran hingga triliunan yang terbengkalai dan hampir terlupakan oleh banyaknya kasus ecek-ecek yang kisaran nominalnya hanya jutaan. Tentu tak sebanding dengan harga semangka yang kisarannya 50 ribuan. Alamak! Kasihan betul nasib sang nenek dan nasib nenek-nenek   lain yang kelaparan di negeri ini. Kasus semisal sangat buanyaak.

Kegaduhan lain, perkara undang-undang mengatur siapa saja bebas jadi pemimpin, pun menjadi Gubernur Jakarta. Ya….itulah produk manusia. Namun ingat! Jakarta barometer Indonesia yang penduduknya mayoritas muslim. Ada sisi  kepatutan bagi yang ingin mencalonkan hendaknya seorang muslim agar tak mengundang kegaduhan, jikapun hendak memajukan non muslim pastikan ia seorang negarawan nan berintegritas, bukan sosok penuh kontroversi. Tentu hal ini juga sesuai dengan pancasila sila ke-3 “Persatuan Indonesia”.

Memangnya warga Bali, NTT, Sulut, Papua dan kawasan mayoritas non muslim rela dipimpin Gubernur Muslim?! Jika pun dipaksakan kawatir ditolak mentah-mentah.

Pengangkatan lurah perempuan Lenteng Agung Jakarta tempo lalu dari kalangan non muslim, padahal mayoritas masyarakat disana fanatik muslim. Alhasil menuai kegaduhan hingga berujung menjadi berita nasional. Seharusnya Gubernur dan Mendagri cepat ambil keputusan agar suasana reda.

Kegaduhan lain, kasus poligami mantan bupati yang sempat menghebohkan dunia, secara hukum agama membolehkannya jika mampu adil, namun karena yang bersangkutan pejabat publik, maka harus memperhatikan kaidah yang berhubungan dengan etika publik, apalagi menikahi gadis belia dan menceraikannya tak lama kemudian.

Jikapun bermaksud poligami, maka harus tegas tanpa mempermainkan kehormatan perempuan. Toh sudah biasa jika para penguasa di suatu negeri beristeri banyak. Malah dianjurkan agar tak jadi fitnah di tengah padatnya aktivitas dengan segala penat dan keletihannya.

Orang miskin saja terkadang bercita-cita punya banyak isteri, apalagi orang kaya, tampan rupa, gagah, berkuasa, super sibuk, cerdas, populer plus soleh lagi. Mau apa lagi kalau sudah demikian?

Apa para isteri rela membiarkan suaminya selingkuh, punya isteri simpanan. Ketahuilah itu hanya menambah pundi-pundi dosa tuk bahan bakar api neraka. Ma’adzallah.

Ingat! Kecendrungan para lelaki di dunia ini rata-rata mendua, mentiga, mentok sampai empat. Penyimpangan jika lebih dari empat. Namun tak semua lelaki punya keberanian kendati punya kemapanan. Bagi yang tak berani cukuplah dengan satu isteri, tetap setia dan jangan main mata. Faham!

Kemudahan demi kemudahan sejatinya sangat dianjurkan dalam ajaran Islam, jika Anda menemukan dua kemudahan maka pastikan memilih yang termudah, namun jangan sekali-kali mengakali kemudahan sebagai pembenaran dari kemalasan Anda.

Kebijakan Umar bin Khatab sebenarnya sangat relevan, bisa dijadikan acuan para pemangku kepentingan di negeri ini. Toh hal demikian tidak bertentangan dengan Al Qur’an jika dikaji secara komprehensif, karena turunnya kitab suci penuh berkah ini tiada lain mendatangkan kemaslahatan dan bertujuan menolak segala jenis kerusakan.

Belajar dari praktek hukum pancung yang bertujuan menolak kerusakan misalnya, di balik ketegasan hukumnya ternyata ada sumber kehidupan, yaitu mampu menyelematkan banyak nyawa setelahnya. Inilah yang disebut Rahmatan lil ‘aalamiin. Bayangkan jika hukum tumpul, berapa banyak para pembunuh terus berkeliaran.

Kegaduhan demi kegaduhan adalah jenis kerusakan, buang waktu, tenaga, pikiran, materi hingga nyawa. Hal inilah yang justru bertentangan dengan prinsip yang terkandung dalam ajaran Al Qur’an secara tersurat maupun tersirat.

Jika Anda merasa sukar, mudahkanlah, mulai sekarang berhentilah menyulitkan diri sendiri apalagi menyulitkan orang lain dan bertakwalah kepada Allah Ta’ala.

الدِّينُ يُسْرٌ أَحَبُّ الدِّينِ إِلَى اللهِ الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ.

Artinya: “Agama itu mudah; agama yang disenangi Allah yang benar lagi mudah.” [1]

يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا

Artinya: “Mudahkanlah dan jangan mempersukar” [2]

وما جعل عليكم في الدين من حرج

“Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan” (QS: Al Hajj ayat 78 juz 17).

——————

[1] HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah RA.

[2] HR. al-Bukhari dari Anas ibn Malik RA.

————–

Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc M.A

Pengasuh Halaman Komunitas ISCO (Islamic Studies Center Online)

 

 

Pembelajar sepenggal masa, belajar menuangkan setetes pemikiran menjadi tulisan ringan, berharap makna bagi sesama. Pengasuh situs lulusan Ponpes Modern Darunnajah Bogor, S1 Univ. Al Azhar Kairo Republik Arab Mesir Fakultas Ushuluddin Jurusan Hadist dan Ilmu-ilmunya, S2 Univ. Cidi Mohammed ben Abdellah Kota Fez Kerajaan Maroko bidang Kaidah Fiqih dan sedang menyelesaikan pendidikan S3 ilmu tafsir di PTIQ Jakarta.

Leave A Reply

linked in share button