154 views

Sosok Perempuan Sukses

0

Setiap insan butuh panutan yang bisa dibanggakan dalam hidupnya, para kaum hawa pun butuh tauladan dari orangtua maupun orang-orang terdekatnya. Tanpa tauladan, seseorang kesulitan menemukan jalan pulang di tengah derasnya arus modernisasi

Para orangtua mempunyai peran penting mendidik anak gadisnya, tanggung jawabnya bukan saja masalah ekonomi dan memberi sentuhan kasih sayang, namun ada juga pendidikan agama.

Dalilnya mana?

Mudah saja, cukup dengan logika, karena segala sesuatu sejatinya titipan Robb semesta alam meliputi harta benda, keturunan, kesehatan, waktu luang, dan kedudukan.

Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi. (QS. Al Munaafiquun: 9)

Ditambahkan di surat Al Anfaal ayat 28.

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.”

Terkadang para perempuan berdalih butuh arahan, nasehat, teman curhat, padahal sebenarnya butuh pendamping hidup. Dari sinilah para lelaki hendaknya mewaspadai curhatan para perempuan, kawatir setan bermain cantik menjerumuskan manusia menjadi binasa. Jikapun hendak menikah pastikan setan bukan mak comblang Anda.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar” (QS. An Nuur; 21)

Para perempuan bisa saja terperosok dalam pola hidup yang kurang tepat, jika mereka salah memilih pergaulan, teman curhat, tauladan dan yang lebih berbahaya salah memilih pasangan hidup.

Jika ini menimpa kaum hawa akan berdampak besar pada perubahan prilaku dan perkataannya ke arah yang kurang baik, karenanya peran para orangtua untuk mendidik agama kepada anak-anaknya menjadi hal super serius.

Apalah arti sukses?

• Jika dalam rumahnya belum tertata,
• Jika anak-anaknya kurang mendapat perhatian kendati materi selalu ada
• Jika anak-anaknya jauh dari pendidikan agama dan moral,
• Jika anak-anaknya kurang mendapat bimbingan dalam perkembangan kejiwaannya
• Kurangnya tauladan dalam kehidupan anak-anaknya,
• Jika anak-anaknya tak kunjung dewasa, tidak mandiri dan selalu bergantung kepada orangtua
• Jika anak-anaknya frustasi karena sikap orangtua yang kurang bijaksana
• Jika anak-anaknya menjadi binal dan nakal

Para orangtua hendaknya mengingat pertumbuhan anak-anaknya, baik secara psikologis maupun dalam pendidikannya.

• Jangan sampai menyesal karena salah mendidik anak,
• Jangan sampai bersedih karena terlalu sibuk demi ambisi pribadi,
• Jangan sampai air mata meluap karena gagal membahagiakan anak menjadi pribadi berkarakter, bermoral dan beragama.

Ada beberapa pola yang harus kita perhatikan sebagai orangtua dalam mendidik anak-anak dengan ikut menyertai hari-harinya dengan pendidikan yang berawal dari keluarga, sebelum mereka mengenal lingkungan sekolah dan lingkungan bergaul.

Teruntuk para ibu maupun calon ibu seyogyanya terus bersabar dan belajar menjadi sebaik-baik sekolah untuk anak-anaknya, dalam ungkapan bahasa Arab  “Al Ummu Madrasatun”, artinya seorang ibu adalah sebaik-baik sekolah. Peran bapak juga penting, namun peran ibu jauh lebih penting, bahkan kecerdasan dan kesuksesan sang anak biasanya didominasi peran ibu. Inilah sosok para ibu/perempuan yang sukses.

Jika seorang ibu sibuk bekerja siang malam lalu menitipkan anak-anaknya kepada orang lain, di satu sisi kita tidak tahu apa yang dirasakan dan dibutuhkan sang anak. Bahkan terjadi di sekitar kita, seorang perempuan sibuk di dunia pendidikan, mengklaim sukses memintarkan banyak orang, namun alangkah sayang, gagal mendidik anak-anaknya sendiri.

Bukan berarti seorang perempuan tak boleh bekerja, akan tetapi pandai memilih skala prioritas dalam kehidupannya sehingga tidak terjebak dalam urusan sekunder, apalagi jika hanya memenuhi gaya hidup semata dan persepsi orang lain. Berbahaya!

Dalam kehidupan anak-anak, berbahagia cukup sederhana yaitu hari-hari mereka bisa dilalui bersama orang-orang terdekatnya khususnya seorang ibu. Kenapa demikian?

Kasih sayang seorang ibu jauh berbeda dengan bapak. Sampai kapanpun perhatian dan kasih sayang yang diberikan seorang ibu tidak mungkin sama dengan bapak. Inilah kelebihan para ibu. Maka berbahagialah anda sebagai seorang perempuan.

Kelebihan lain, ketika para ibu ditinggal suaminya, ia sanggup mengurusi beberapa anaknya bahkan tak jarang mereka yang rela tidak menikah lagi seumur hidupnya dan hanya fokus mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Berbeda dengan para lelaki yang ditinggal isterinya, biasanya mereka segera menikah lagi.

Saat sang anak hendak bepergian jauh, dalam banyak kasus seorang ibu lebih pandai mempersiapkan kebutuhan sampai bekal makananpun disiapkan, ketika dalam perjalanan perhatian tak pernah putus, menelepon, sms dan terus menemani perjalanan sang anak dengan perhatian sampai tiba di tempat tujuan.

Ada sebuah ungkapan:

“Jika seseorang ditinggal ibunya maka berdampak pada kurangnya perhatian dan sentuhan kasih sayang, jika ditinggal bapak dampaknya pada masalah ekonomi”

Di zaman sekarang banyak anak yang lebih dahulu yatim piatu kendati orangtuanya masih hidup, inilah penyakit kronis yang banyak diderita anak-anak yaitu “KUPER” alias kurang perhatian. Alangkah sayang!

Seandainya para orangtua mau mendudukkan anak-anaknya untuk mendengar keluh kesah dan mendapat jawaban jujur dari buah hati, cobalah sesekali tanyakan.

Nak! Tolong koreksi ibu dan bapak, coba sebutkan apa saja kekurangan kami selama ini?.

Para orangtua usah kaget, karena anda akan dicecar dengan ribuan keluh kesah dan beragam kekurangan anda. Jika anda merasa punya 100 kebaikan kepada anak anda, maka anak anda akan mengutarakan 1000 kekurangan anda. Maka sadarlah!

Mungkin saja umur seorang ibu tidaklah panjang menemani hidup sang anak, namun betapa banyak mereka yang bahagia kendati ibunya sudah lama meninggal, karena sentuhan kasih sayang sang ibu masih melekat di relung sanubari sang anak.

Sebaliknya betapa banyak anak-anak yang orangtuanya masih hidup namun mereka kurang bahagia, karena kurang mendapat perhatian dan kasih sayang. Alhasil biasanya terjerumus dalam pergaulan yang kurang baik.

Para ulama berpendapat diantara sebab hancurnya generasi dan rusaknya karakter anak-anak umumnya karena faktor orangtua mereka sendiri, kurang perhatian, tidak mengajarkan kewajiban-kewajiban agama, perkara halal haram dan sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada anak-anaknya.

Sungguh! Tiada yang lebih membuat orangtua berbahagia, melainkan melihat anak-anaknya takut dan tunduk ruduk hanya kepada Allah semata.

————–

Oleh: Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc M.A

Pengasuh Halaman Komunitas ISCO (Islamic Studies Center Online)

Pembelajar sepenggal masa, belajar menuangkan setetes pemikiran menjadi tulisan ringan, berharap makna bagi sesama. Pengasuh situs lulusan Ponpes Modern Darunnajah Bogor, S1 Univ. Al Azhar Kairo Republik Arab Mesir Fakultas Ushuluddin Jurusan Hadist dan Ilmu-ilmunya, S2 Univ. Cidi Mohammed ben Abdellah Kota Fez Kerajaan Maroko bidang Kaidah Fiqih dan sedang menyelesaikan pendidikan S3 ilmu tafsir di PTIQ Jakarta.

Leave A Reply

linked in share button