80 views

Studi Komparatif: Andalusia Riwayatmu Kini (Bag. 2)

0
Menara La Giralda, bangunan (Masjid) bersejarah terletak di kota Sevila-Andalusia (Spanyol), ia merupakan salah satu dari tiga masjid bersaudara (Koutabia di Marrakech “kota merah”-Maroko Klik disini dan Menara Hasan di Ibukota Rabat-Maroko Klik disini)
Inilah salah satu warisan umat Islam di Andalusia dengan segala kenangan indahnya, terpampang dalam puncak menara berdiri salib-salib sebagai penanda beralih fungsinya masjid menjadi gereja pasca runtuhnya peradaban Islam di Sevila tahun 1248 M, adapun secara keseluruhan Islam di Andalusia jatuh ke tangan hegemoni umat kristiani di bawah komando raja Ferdinand dan ratu Isabella pada tahun 1492 M.
Jika Hagia Shopia di konstantinopel Klik disini (Istanbul-Turki) dahulu adalah gereja di masa kekaisaran Rowami Timur, pasca keruntuhanya di tangan kesultanan Ottoman pada tahun 1453 M berubah menjadi masjid, maka runtuhnya peradaban Islampun berimbas pada masjid-masjid yang diubah menjadi geraja, hanya saja umat Islam tidak pernah memaksakan penganut agama lain untuk memeluk Islam (ajaran Tauhid) di masa berjaya dan Inilah keistimewaan yang belum tentu didapat dalam penguasa dunia seperti era Babilonia (ajaran nenek moyang), Persia (Majusi/penyembah api), Yunani (penyembah dewa-dewa), Romawi (paganisme) dengan membawa misi selera beragama mereka.
Firman Allah Ta’ala;
“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran),” (QS. Ali ‘Imran : 140)

Episode akhir sejarah Islam di Andalusia

Pada 1238 Cordova jatuh ke tangan Kristen, lalu Seville pada 1248 dan akhirnya seluruh Spanyol. Hanya Granada yang bertahan di bawah kekuasaan Bani Ahmar (1232-1492).

Kepemimpinan Islam masih berlangsung sampai Abu Abdullah. Kemudian dia meminta bantuan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella untuk merebut kekuasaan dari ayahnya. Abu Abdullah sempat naik tahta setelah ayahnya terbunuh. Namun Ferdinand dan Isabella kemudian menikah dan menyatukan kedua kerajaan.

Mereka kemudian menggempur kekuatan Abu Abdullah untuk mengakhiri masa kepemimpinan Islam sama sekali di bawah kekuasaan raja dan ratu Katolik tersebut.

Sejak itulah, seluruh pemeluk Islam juga Yahudi, dikejar-kejar untuk dihabisi sama sekali atau berpindah agama. Mega proyek Imperium Kristus dengan hegemoninya terhadap pemeluk Islam itu dibawa oleh pasukan Spanyol yang beberapa tahun kemudian menjelajah hingga kawasan Asia tenggara tepatnya di Filipina. Kesultanan Islam di Manila pun mereka bumi hanguskan, seluruh kerabat Sultan mereka perangi.

Alhasil memasuki Abad ke-16, Tanah Andalusia yang selama delapan Abad dalam naungan Islam kemudian bersih sama sekali dari keberadaan Muslimin setelah ekspansi besar-besaran para penguasa barat dengan imperium kristusnya merebut Andalusia dengan mengakhiri cerita pada Tragedy Granada, dimana Umat Islam ketika itu dihabisi dengan kejam tanpa belas kasihan.

Cemerlangnya cerita Andalusia sebenarnya bukan hal baru, termasuk perpecahan dan kemunduran pasca kejayaan. Berkaca ribuan tahun silam kepada Bani Israil yang bisa kita jadikan contoh relevan untuk dijadikan pelajaran berharga.

Mengenal Sekilas Tentang Bani Israil

Bani berasal dari bahasa Arab yang artinya adalah keturunan, sedangkan Israil itu sendiri terdiri dari dua kata yang berasal dari bahasa Ibrani (bahasa yang hampir punah) “Isra dan iel, Isra artinya hamba dan iel adalah Tuhan, jadi Israil adalah hamba Tuhan, maka jangan heran jika keturunan Isail/bani Israil bangga dengan nasabnya karena ada faktor sejarah versi keyakinan dan buku bacaan/kitab suci mereka.

Israil adalah kalimat Ibrani yang merupakan gelar yang diberikan oleh Tuhannya orang Yahudi yaitu Yahwe kepada nabi Ya’kub, karena nabi Ya’kub dapat mengalahkan Tuhan dalam pertarungan antara keduanya, setelah itu Yahwe berkata: setelah ini janganlah kamu dipanggil Ya’kub tapi Israil, karena kamu telah mengalahkan Tuhan.

Adapun Yahudi itu sendiri adalah kalimat yang dinisbatkan kepada anak keempat dari nabi Ya’kub yang bernama Yahoudza, gelar ini muncul setelah runtuhnya kerajaan Yahoudza. Maksud kata Yahudi adalah kalimat yang berartikan “sesungguhnya kami telah kembali kepada Engkau wahai Tuhan”.

Yang disebutkan sebagai keturunan Israil adalah dari keturunan nabi Ishak dan Ya’kub ‘alaihima as-salam, bukan dari nabi Ismail, orangtua daripada nabi Ishak dan Ismail ‘alaihima as-salam adalah nabi Ibrahim, hanya saja beda ibu, Ishak dari Sarah adapun Ismail dari Hajar, akan tetapi keturunan Israil hanya berlaku dari nabi Ishak dan seterusnya, dari nabi Ishak inilah banyak menghasilkan nabi, maka jangan heran kalau bani Israil bisa berbangga karena memang banyak leluhur mereka menjadi nabi kendati mereka sendiri membunuh para nabinya karena kedurhakaan.

Kitab suci orang Yahudi adalah Taurat dan Talmud, posisi Talmud sangat suci bagi orang Yahudi, bagi mereka Taurat dianggap sebagai roti dan Talmud sebagai lauknya, jika beriman kepada Taurat tapi tidak kepada Talmud, maka tidak sah.

Nabi Daud dan Sulaiman ‘alaihima as-salam adalah keturunan Israil, mereka berdua sukses membawa Bani Israil kepada kegemilangan sejarah dan kemakmuran (fase keemasan).

Setelah wafatnya Nabi Daud dan Sulaiman ‘alaihima as-salam, Bani Israil yang dulu kuat dan dipuja-puja akhirnya menjadi kaum yang lemah dan mengalami perpecahan yang akhrinya dibagi menjadi dua kelompok:

  1. Kerajaan selatan dengan Yerussalem sebagai ibukota di pimpin oleh Rahbaam (Rehabeam)-(913-930/31 SM).
  2. Kerajaan utara dengan Nabloes sebagai ibukota dan dipimpin oleh Yarbaam (Yerabeam)-(909/910-930/931 SM).

Rahbaam Putra Nabi Sulaiman ‘Alaihi as-salam menjadi penerus dari kepemimpin ayahnya, sedangkan Yarbaam putra Nabat masih dari keturunan Bani Israil, ia enggan berjalan bersama dan lebih memilih menjadi Oposisi ketimbang koalisi dengan Rahbaam dalam memimpin Bani Israil, dari sinilah berawal perpecahan demi hasrat politik menuju kekuasaan dari kubu Yarbaam.

Faktor mendasar kemunduran Bani Israil

Terlena dengan kejayaan, perebutan tahta kekuasaan, maraknya kubu oposisi yang bersifat subyektif, perpecahan, hidup yang berfoya-foya, krisis moral, dan unsur duniawi lainnya menjadi faktor paling mendasar kemunduran Bani Israil. Setelah beberapa kurun dalam fase kemunduran, estafet kepemimpinan Bani Israil diteruskan oleh Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihima as-salam dengan membawa risalah ilahi, keduanya mampu mengeluarkan Bani Israil dari penindasan turun temurun di bawah kekuasaan sang diktator Mesir Fir’aun serta berhasil dengan taufik dari Allah Ta’ala seperti yang diceritakan di banyak ayat dalam Kitab suci Al Quran. salah satunya di Surat Al A’raaf ayat 103-137 juz 9.

Tambuk kepemimipinan Bani Israil pun berganti seiring dengan wafatnya kedua utusan Allah tersebut. Yusha Bin Nun salah seorang murid kepercayaan Nabi Musa ‘alaihi as -salam yang akhirnya menjadi pemimpin Bani Israil membawa mereka ke Tanah sakral Palestina dan menetap di sana dalam jangka waktu yang lama. Yusha Bin Nun senantiasa membagi masa kepemimpinan Bani Israil menjadi 3 bagian:

  1. Masa Pemerintahan,
  2. Masa kerajaan/kejayaan,
  3. Masa perpecahan.

Di bawah kepimimpinan nabi Daud ‘alahi as-salam awal masa pemerintahan, diteruskan nabi Sulaiman ‘alaihi as-salam dengan masa kejayaan, setelah mereka berdua wafat datanglah masa perpecahan seperti yang diceritakan pada paragraf sebelumnya.

Catatan akhir studi komparatif:

Cerita singkat ini hanyalah contoh kecil dari lembaran sejarah manusia yang bersifat Normatif. APALAH ARTI SEBUAH SEJARAH? kalimat itu ingin saya tanyakan ketika harus disandarkan dengan maraknya Fenomena keagamaan di era global ini.

Bangkitnya pergerakan Islam di Asia tenggara, kemenangan tipis kelompok Islam di Turki atas kubu sekuler dan militer, revolusi negara-negara Arab yang diawali di Tunisia tahun 2010 dan semakin menjamurnya pemeluk Islam di benua Eropa, Australia, Amerika, hingga Asia timur pasca tragedi World Trade Center 2001, walaupun propaganda barat dan media massa juga tidak kalah bangkit memberitakan berita negatif seputar dunia Islam. Bahkan menggambarkan Islam di mata dunia sebagai agama yang ekstrim, sebagai contoh terbaru adalah kehadiran kontroversial dari ISIS di tahun 2013 yang mengatasnamakan pembela agama. Para ulama dunia sepakat kehadiran ISIS tidak mewakili umat Islam.

Ini semua menjadi akumulasi yang tidak terbantahkan perihal meluasnya cahaya Islam yang tidak dapat dibendung oleh kekuatan apapun dengan izin AllahTa’ala, sama halnya seperti meluasnya cahaya Islam ke daratan Andalusia ratusan tahun silam, sesuai dengan beberapa firmannya:

  1. Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. (At-taubah: 32).
  2. Dan siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada Islam? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim (7). Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.” (8). (Ash Shaff: 7-8).
  3. Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (Al Israa’: 81).
  4. Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Muhammad: 7).
  5. Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang shali (Al-Anbiyaa’: 105).
  6. Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik [kalimat tauhid]dan amal yang shalih dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur. (Faathir: 10).
  7. Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang. (Al Maa’idah: 56).

Referensi: Al Qur’an Al Kariem, Siroh nabawiyah, Data kolektif via Online (Tarikh El Andalus), Diktat Univ-Azhar Kairo (Milal Wa Nihal-Tarikh Bani Israil), dan Analisa Personal.

(Catatan ringan ini didedikasikan untuk seluruh umat Islam dan para pengagum akan sejarah Islam di Andalusia)

Bag. 1; Klik disini

——–

Bersambung ke Bag. Akhir; Fakta menarik studi komparatif

———–

Oleh: Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc M.A

Pengasuh Halaman Komunitas ISCO (Islamic Studies Center Online)

Pembelajar sepenggal masa, belajar menuangkan setetes pemikiran menjadi tulisan ringan, berharap makna bagi sesama. Pengasuh situs lulusan Ponpes Modern Darunnajah Bogor, S1 Univ. Al Azhar Kairo Republik Arab Mesir Fakultas Ushuluddin Jurusan Hadist dan Ilmu-ilmunya, S2 Univ. Cidi Mohammed ben Abdellah Kota Fez Kerajaan Maroko bidang Kaidah Fiqih dan sedang menyelesaikan pendidikan S3 ilmu tafsir di PTIQ Jakarta.

Leave A Reply

linked in share button