137 views

Sulit Bahagia? Beragamalah Sepenuh Hati

0

 ‘Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.’ QS. Al Baqarah; 208

Dalam mencerna agama yang lurus, bukan dengan prasangka apalagi asumsi, karena ia bisa menjerumuskan seseorang dalam jurang kesesatan. Tengok para penganut paganisme.

Bukan pula dengan kesombongan dan kebanggaan, karena ia sangat dekat dengan kemurkaan. Tengok kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud, bangsa Madyan, Qarun dan kerajaan Fir’aun.

Bukan Iblis jika tak pandai menggoda anak keturunan Adam, bukan pula manusia jika tak pernah khilaf, para Nabipun pernah tergoda. Tengok kisah Adam dan Hawa.

Dalam diri manusia terdapat dua kecendrungan:

(1) Baik,

(2) Menyimpang.

Iblis pandai mengambil celah, sesekali ia mengajak kepada kebaikan, bahkan sering kali tanpa kita sadari, berapa banyak manusia yang terjerumus dalam lubang kemusyrikan yang dibungkus ketaatan. Tengok para pelaku penyimpangan.

Ber-Islam adalah fitrah yang patut disyukuri, karena ia adalah nikmat terbesar dalam kehidupan manusia. Penyimpangan di muka bumi tidak lantas terjadi begitu saja.

Tengoklah bagaimana kaum Nabi Nuh yang menyembah patung bernama Wadda, Suwa, Yagush, Ya’uq dan Nasra. Lantas siapa mereka?

Mereka adalah orang-orang shaleh di zamannya, kejadian ini terjadi di lebih dari 5000 tahun lalu, sebelum Nabi Nuh, semua manusia bertauhid, hal ini berlangsung selama 10 abad.[1]

Seiring wafatnya para ulama, ilmu tercabut, iman terkoyak dan lihainya godaan Iblis. Ketika itu pula manusia mulai membuat patung, awalnya tidak disembah, namun kemudian menyembahnya. Inilah awal sejarah penyimpangan di muka bumi.

Patung-patung terus bermunculan setelah era Nabi Nuh, seperti di zaman Nabi Ibrahim, Ba’la di era Nabi Ilyas, patung sapi ala Samiri di era Nabi Musa dan Harun, Isa putera Maryam di era Bani Isail, kemudian Manna, Latta, Uzza sebagai berhala kebanggaan bangsa Arab di era Jahiliah dan terus berlanjut hingga era global. Tengoklah di sekitar anda!

Lantas siapa yang mengajak manusia menyembah patung. Jawabannya mudah: Dialah Iblis (setan).

Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwasanya seseorang berkata, “Hai Muhammad, hai junjungan kami, dan putera junjungan kami, pilihan kami, dan putera pilihan kami.”

“Hai sekalian manusia, jagalah ucapan kalian dan jangan sampai setan menjerumuskan kalian. Aku adalah Muhammad bin Abdullah, hamba Allah dan RasulNya. Demi Allah, aku tidak suka bila kalian meninggikanku melebihi kedudukanku yang telah ditetapkan Allah kepadaku.:”
(HR. Ahmad)

Sejarah menuturkan, bahwa dahulu manusia itu lurus-lurus saja, penyimpangan terjadi karena manusia terlalu mendewakan orang-orang shaleh di sekitarnya, hingga pada suatu masa ilmupun hilang sehingga orang-orang shaleh tersebut akhirnya disembah.

Jika kita mencintai para Nabi, pembuktiannya sederhana, bisa diaplikasikan dalam keseharian, diantaranya:

“Cinta dengan ilmu, menjauhi kemusyrikan, berintegritas, meninggalkan kebiasaan menggunjing, tidak hasad, tidak hasud, jauhi praktek KKN, berhenti menyuap, jauhi pungli, tidak sombong, tidak pelit, tidak mubadzir, tidak riya, tidak membuang sampah sembarangan, mematuhi aturan lalu lintas, tidak menyakiti hati orang lain, tidak mudah sentimen, tidak menyebar berita hoax di MEDSOS, berhenti merokok, tertib, menyegerakan ampunan/bertaubat dan karakter mulia lainnya”

Beragama bukan dibangga-banggakan, dipamerkan, dan bukan pula merasa diri paling suci dari yang lain, karena sebaik-baik pakaian yaitu takwa, ia terbalut kesederhanaan, ketulusan dan kesungguhan.

Kisah Nabi Adam, Nuh, keluarga besar Ibrahim dan keturunan Imran pantas dijadikan pelajaran, karena mereka manusia-manusia terbaik yang pernah hadir menghiasi muka bumi, terjamin keselamatannya di akherat.

Dan keselamatan (kesejahteraan) dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. (QS. Ash Shaaffat: 181-182)

Antara meluruskan penyimpangan dan menghina tentu tidak sama.

Pertama mulia [meluruskan penyimpangan], yang kedua [menghina]tentu tidak terpuji.

Islam mengajak setiap manusia kepada kemuliaan dan sikap terpuji dengan cara persuasif dan berdasar.

“Dan katakanlah (Muhammad): “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. (QS. Al Kahfi: 29)

Tiada alasan untuk tidak beragama sepenuh hati, teknologi semakin canggih, adzan selalu berkumandang, penceramah segudang, kajian kini bisa diakses via online, sekolah Islam berhamburan bak jamur, perpustkaan tak sulit dicari, sinetron/program religi terus mewarnai televisi, Al Qur’an dan Sunnah Nabi makin mudah ditemui bahkan hadir dalam bentuk digital serta aplikasi.

Inilah kehidupan, umur kita yang rata-rata hanya setengah abad, sejatinya ia hanya sesaat, alangkah ruginya manusia yang masih tersesat jalannya dan masih tertipu dengan dunia,

Imam Fakhru Razi berkata dari Fath Al Maushuli:

“Kita ini sejatinya adalah penduduk penghuni Surga (Adam dan Hawa), namun Iblis menawan kita ke dunia, dan tiada lain yang dirasakan kehidupan dunia adalah kesulitan serta kesedihan.”[2]

Hal tersebut senada dengan firman Allah Ta’ala yang tiada menyebut kata bahagia, melainkan berada di satu tempat.

“Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam syurga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.” (QS. Huud: 108)

Semoga saya, anda dan kita semua termasuk orang-orang yang berbahagia di dunia dan di akherat. Ya Robbanaa

———

[1] . Periksa Qashash Al Anbiyaa Hal. 50

[2] . Periksa Tafsir Al Qur’an Al Adhim Ibnu Katsir Hal. 95.

————–

Oleh: Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc M.A

Pengasuh Halaman Komunitas ISCO (Islamic Studies Center Online)

Pembelajar sepenggal masa, belajar menuangkan setetes pemikiran menjadi tulisan ringan, berharap makna bagi sesama. Pengasuh situs lulusan Ponpes Modern Darunnajah Bogor, S1 Univ. Al Azhar Kairo Republik Arab Mesir Fakultas Ushuluddin Jurusan Hadist dan Ilmu-ilmunya, S2 Univ. Cidi Mohammed ben Abdellah Kota Fez Kerajaan Maroko bidang Kaidah Fiqih dan sedang menyelesaikan pendidikan S3 ilmu tafsir di PTIQ Jakarta.

Leave A Reply

linked in share button