84 views

Tangisan Seorang Ibu

0

  “Dan bahwasanya Dialah (Allah) yang menjadikan orang tertawa dan menangis,” (QS. An Najm: 43)

Ini kisah lama saya beberapa tahun lalu, ketika masih berada di negeri seribu benteng Maroko kawasan Afrika Utara, entah kenapa baru sekarang saya tuliskan, atau karena mungkin kejadian ini sering teringat dalam benak, kebiasaan saya suka menulis sesuatu hl yang berkesan dengan harapan bisa kita ambil jadi sebuah pelajaran.

Singkat cerita, dalam perjalanan saya dari kota Fes ke ibukota Maroko yaitu Rabat, perjalanan ditempuh sekitar 3 jam via darat, kebetulan saya duduk bersampingan dengan seorang ibu yang usianya sekitar 70 tahunan.

Masyarakat Maroko berbeda dengan masyarakat Arab umumnya, mereka dikenal terbuka dan super ramah, perpaduan budaya antara masyarakat pribumi bangsa bar-bar, eropa dan arab menjadi salah satu alasannya. maka tak heran para pelajar Indonesia pasti pernah ditawari menikah dengan orang Maroko termasuk saya. Bahkan salah satu rekan kami ada yang menikah dengan kerabat Perdana Menteri Kerajaan Maroko Abdullah Benkiran dan masih ada lagi beberapa pelajar Indonesia di sana maupun non pelajar yang menikah dengan gadis Maroko.

Pelajar Indonesia di Maroko sangat dihormati, layaknya artis, tamu spesial, disapa dan dipuji, hal inipun terjadi ketika saya duduk bersampingan dengan seorang ibu tua, maka terjadilah sebuah percakapan hangat, si ibu pun bercerita atas kunjungannya ke Rabat untuk menjenguk anaknya yang sudah sukses dan menetap disana.

Si Ibu bertanya tentang keadaan saya, dan sayapun menjelaskan bahwa saya sedang belajar disini seraya memohon doa tuk kelancaran studi, kemudian bertanya tentang kondisi keluarga, apakah orangtuanya masih hidup, lalu saya jawab singkat, ibu sudah lama meninggal dan tinggal ayah, setelah kepergian ibu, ayah saya sarankan untuk segera menikah agar ada yang mengurus dan Alhamduillah sudah menikah kembali.

Satu hal yang membuat saya sedikit kaget, ketika si ibu mendengar kalau ibu saya sudah lama meninggal, seketika itu pula ia banjir air mata, begitu dahsyat isak tangisnya dan berlangsung begitu lama. Namun saya biarkan ibu itu tetap menangis tanpa saya bertanya kenapa ibu menangis. Saya terus bercerita tentang program S2 dan kegiatan saya di Maroko serta perihal Indonesia, dan tangisan sang ibupun akhirnya menemani perjalanan saya menuju ibu kota Maroko.

Cerita lainnya, ketika sudah berada di Indonesia sepulang dari Maroko, di salah satu masjid agung di kota besar, selepas shalat dzuhur di pelataran masjid saya mendapati pasangan suami isteri berwajah arab campur bar-bar dan saya pun mengucap salam kepada mereka, jujur! saya sangat senang jika ada orang arab datang ke negeri ini, minimalnya nostalgia seakan-akan sedang berada di tanah arab.

Keduanya berasal dari Al Jazair berdekatan dengan Maroko, secara budaya dan bahasa tak jauh beda, mereka sedang menengok anak perempuannya yang kuliah di salah satu Universitas Negeri ternama di tanah air dan mengambil konsentrasi Sains, saya pun memancing pertanyaan, kenapa anda tidak sekolahkan anak di Eropa saja, toh lebih maju dan lebih dekat dari Negara anda, merekapun menjawab kami memilih Indonesia karena Negara muslim dan anak saya senang dengan negera yang mayoritas Islam seperti Indonesia.

Sesekali saya berbicara dengan bahasa perancis, merekapun antusias kendati wajah arab tapi di Aljazair bahasa perancis adalah bahasa kedua sama seperti Maroko, merekapun heran dimana saya belajar bahasa Arab dan Perancis, saya katakan bahwa saya pernah berajar di negara Arab bagian barat yang mayoritas berbahasa Arab dan Perancis, suka duka pun saya ceritakan dengan singkat.

Lagi-lagi tanpa diduga, sang ibu berurai air mata, sesekali sesegukan mendengar cerita saya, padahal saya pikir apa yang harus ditangisi, obrolan ini menurut saya biasa-biasa saja, sayapun tak bertanya kenapa si ibu menangis, dalam hati saya mungkin ia terharu ketika ada orang Indonesia jauh-jauh belajar ke ujung Afrika sebagaimana anaknya jauh-jauh belajar ke ujung AsiaI.

Inilah bangsa Arab, dengan segala kelebihan dan kekurangan, mereka mempunyai hati-hati yang lembut dan mudah tersentuh, secara kultural mereka terlihat keras dan kasar, namun sejatinya mereka mudah disentuh, bahkan mereka punya selera humur yang tinggi. Berbeda dengan kita “bangsa melayu” atau yang tinggal di kawasan “asia tenggara” terlihat lemah lembut namun siapa sangka “kita” pendendam hebat dan sulit sekali memaafkan.

Terlalu banyak jasa bangsa Arab atas negeri ini, namun kita seakan lupa atas jasa mereka, kita lebih bangga dengan budaya barat dan budaya asing lainnya yang sebenarnya sangat merusak dari segi akidah dan moral, terkikis sudah identitas bangsa dan negeri ini.

Setiap kali saya bertemu orang-orang Arab, saya katakan, wajah saya Indonesia namun ruh saya sebagian sudah menyatu dengan bangsa Arab, saya sangat cinta dengan bangsa dan dialektika bangsa Arab sebagaimana saya cinta dengan Nabi Muhammad yang berasal dari Arab, saya cinta Al Qur’an yang turun dengan bahasa Arab, isinya penuh kebaikan, pedoman, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakininya.

“Al Quran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.” (QS. Al Jaatsiyah: 20)

Belajarlah dari orang-orang Arab, mereka sebenarnya mudah menangis, mudaaahhhh sekali! Alasannya bukan karena mereka melow atau cengeng namun Al Qur’an sudah mendarah daging dan masuk ke relung sanubari mereka, adapun “kita” sulit sekali menangis, suliiittttt sekali! Ada apa gerangan? Sebegitu keraskah hati ini?

Makanya kita tak usah heran, terlalu banyak fenomena menghiasi dalam ibu pertiwi, alasannya sederhana, karena ayat-ayat Al Qur’an sudah berani ditinggalkan untuk dibaca, dipelajari, difahami, ditadaburi, dihafal dan diamalkan. Bahkan ada yang berani menistakan. Alamak!

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita keluargaNya di muka bumi dan orang-orang terpilih untuk tetap mencintai dan membela Al Qur’an sampai ajal menjemput. Ya Robbanaa

————–

Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc M.A

Pengasuh Halaman Komunitas ISCO (Islamic Studies Center Online)

 

Pembelajar sepenggal masa, belajar menuangkan setetes pemikiran menjadi tulisan ringan, berharap makna bagi sesama. Pengasuh situs lulusan Ponpes Modern Darunnajah Bogor, S1 Univ. Al Azhar Kairo Republik Arab Mesir Fakultas Ushuluddin Jurusan Hadist dan Ilmu-ilmunya, S2 Univ. Cidi Mohammed ben Abdellah Kota Fez Kerajaan Maroko bidang Kaidah Fiqih dan sedang menyelesaikan pendidikan S3 ilmu tafsir di PTIQ Jakarta.

Leave A Reply

linked in share button