164 views

Tatkala Eksistensi Superior Mulai Terusik

0

Belajar dari kisah Nabi Adam, ketika Iblis terusir dari surga. Sesungguhnya hal itu bukanlah semata-mata karena ia diciptakan dari api. Namun, ada faktor mendasar, yaitu eksistensinya sebagai calon penguasa bangsa jin di muka bumi akan sirna jika ia bersujud kepada manusia yang dihadirkan Allah Ta’ala sebagai khalifah.

Belajar dari kisah Nabi Musa, pada zamannya hidup seorang Fir’aun. Ia begitu takut kekuasaannya diambil alih Bani Israil, menimbang pengaruh mereka yang semakin kuat sepeninggalan Nabi Yusuf. Alhasil, Fir’aun melakukan genoside terhadap mereka. Alasannya, khawatir eksistensi warga pribumi terusik para pendatang. Tak hanya itu, mereka juga ditindas dengan dijadikan budak turun-temurun.

Belajar dari kisah Nabi Isa, dalam perjalanan hidupnya ia memiliki banyak karunia yang diberikan Tuhan. Kelebihannya membuat kalangan Yahudi dan penguasa Romawi mendengki. Ia pun masuk dalam daftar pencarian orang untuk disingkirkan. Mereka sangat takut eksistensinya tergeser pengaruh Isa yang menyeru untuk menyembah Allah semata.

Belajar dari kisah Nabi Muhammad, tantangan terbesar dakwahnya berasal dari kalangan Ahli Kitab yang tidak menganggap kenabiannya. Jika mereka beriman kepadanya, secara otomatis konsep ketuhanan yang mereka canangkan gugur karena Alquran dengan tegas menyatakan Isa (Yesus) bukan Tuhan, bukan pula anak Tuhan, melainkan ia hanya seorang hamba yang diberi nikmat berupa kenabian.

Belajar dari kisah para Nabi, kita tidak perlu heran ketika pewaris para Nabi yang tidak membawa kepentingan selain mengajak manusia kepada kemaslahatan. Namun, tetap saja ia dihadapkan pada beragam fitnah, intimidasi, dituding pemecah belah umat, tidak nasionalis, radikal, gembong teroris, jauh dari kemajuan, dan lain sebagainya.

Mengapa dikatakan demikian?


Jika kita cermati, kedengkian kalangan superior itu merupakan hal normatif. Ketika pengaruhnya mulai terusik dengan pendatang baru atau adanya kekuatan yang mampu menandingi, biasanya mereka tidak senang. Apa pun cara akan dihalalkan guna menjatuhkan lawannya. Keniscayaan tersebut akan terus terulang hingga akhir zaman.

Hal yang perlu kita garis bawahi bahwa kuantitas tidak selamanya menjamin kualitas. Bukankah awal perjuangan Rasulullah hanya segelintir orang berislam. Adapun kebanyakannya pada masa itu adalah para penganut paganisme alias penyembah setan. Mereka itulah yang selalu dikatakan superior.

Teringat pesan bapak Quraish Shihab ketika kami masih berada di Mesir;

“Sudahlah kalian belajar saja yang benar, usah banyak kegiatan di luar urusan sekolah dan bikin kelompok-kelompok, apa tidak cukup organisasi mahasiswa Indonesia di Mesir sebagai medium kalian.”

Tidak bisa kita mungkiri, terlalu banyak kelompok, maka akan ada banyak kepentingan dan pesanan. Jika keadaannya sudah demikian, biasanya akan mudah disusupi. Semakin besar, maka akan semakin mudah.

Sebagian orang, bahkan kebanyakannya, takut berkata benar karena bisa membuatnya dimusuhi atau sulit mendapat kedudukan. Ketika manusia sudah takut, setan sangat mudah menggodanya. Demikian setan menjerat manusia karena ia masuk dari pintu takut. Namun, tidak berlaku bagi mereka yang berani sebagaimana para Nabi dan pewarisnya.

Setan sebenarnya takut kepada manusia yang notabene adalah pemimpin di muka bumi. Tengoklah kisah Umar bin Khatab, tauhidnya yang kokoh, hatinya bersih, dekat dengan Tuhan dan jauh dari kemaksiatan membuat setan mengambil jalan lain.

Takut berjuang, dimusuhi, dipecat, tidak mendapat posisi, memulai kehidupan baru, melangkah dan segala ketakutan lain yang sering kali menghantui diri, hal tersebut hanya akan membuat sempit kehidupan seseorang.

Bagi kalangan beriman, tiada ketakutan dan kekhawatiran menghadapi segala tantangan. Mereka meyakini ada Zat yang Maha Melihat, Mengawasi, Mendengar, dan selalu Memperhatikan. Yang mereka takutkan hanya Allah yang Mahatinggi lagi Mulia, bukan takut pada kehidupan dunia, pengaruh manusia, setan, apalagi roh gentayangan.

Seorang mukmin senantiasa menyerahkan segala urusannya kepada Rabb semesta alam seraya menjalankan segala peritah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya, beriman kepada-Nya, para utusan-Nya, kitab-kitab-Nya, para malaikat, dan hari kiamat.

Beginilah aturan Tuhan yang akan terus berputar kendati kita sudah tiada. Belajar pada sejarah, barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan dimudahkan. Kegagalan hanyalah bagi mereka para penakut.

Dalam dinamika kehidupan, akan ada dua pergulatan hebat antara hak dan batil. Di antara anak keturunan Adam, terpecah menjadi dua golongan yang masing-masing memperjuangkannya. Allah ada di kubu yang hak, sedangkan Iblis pemimpin orang-orang tersesat.

Hidup manusia teramat singkat, tapi ia sangat menentukan akan selamat tidaknya setiap insan di akhirat kelak. Maka, tiada pilihan bagi kita selain mengikuti ajakan orang-orang yang tidak punya kepentingan selain mengharap ridha Allah semata.

Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Yasin: 21)

Semoga Allah Ta’ala membimbing kita semua. Ya Robbanaa.

————–

Oleh: Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc M.A

Pengasuh Halaman Komunitas ISCO (Islamic Studies Center Online)

Pembelajar sepenggal masa, belajar menuangkan setetes pemikiran menjadi tulisan ringan, berharap makna bagi sesama. Pengasuh situs lulusan Ponpes Modern Darunnajah Bogor, S1 Univ. Al Azhar Kairo Republik Arab Mesir Fakultas Ushuluddin Jurusan Hadist dan Ilmu-ilmunya, S2 Univ. Cidi Mohammed ben Abdellah Kota Fez Kerajaan Maroko bidang Kaidah Fiqih dan sedang menyelesaikan pendidikan S3 ilmu tafsir di PTIQ Jakarta.

Leave A Reply

linked in share button